Kado untuk Zahra
16 Jan 2011 1 Comment
Ku lihat Zahra sedang membaca novel nya lagi. Harry Potter yang pertama. Dia memang senang membaca. Sudah sering aku melihatnya membaca berulang-ulang. Katanya itu hadiah dari ayah nya yang sudah meninggal. “Hey sudah berapa kali kau membacanya berulang-ulang?” tanya ku kepada Zahra. “Ah Reza..ganggu aja sih? Sana sana ganggu aja sih lo!” katanya judes. “yee.. jadi gua ganggu, maaf deh. Emang lo gak bosen apa baca yuh buku berulang-ulang?” tanya ku padanya. “Bukan urusan lo ! sana lo pergi ah!” jawabya singkat sembari mengusirku dari tempat duduk nya. “Iya iya gua pergi dah. Suatu saat gua akan beliin novel karya J.K Rowling buat lo dah.” kataku sembari pergi meninggalkan nya. “Eh gak usah gua gak mau ngerepotin lo.” Katanya.
Ya aku menyukainya karena Zahra itu cuek, pintar, dan suka sekali membaca. Ku lihat kalender di hape ku. Sekarang tanggal 3 Mei, dan Zahra ulang tahun tanggal 26 Mei. Hemm.. sebentar lagi Zahra akan ulang tahun. Kado apa yang harus aku berikan kepada nya? Novel Harry Potter yang ke dua, tiga atau berikutnya lagi? Sedangkan uangku tak cukup untuk membelinya. Tetapi aku tahu Zahra pasti bosan membaca nya. Jika ku ajak dia menonton film nya ia pun tak kan mau. Karena aku sudah pernah mengajak nya waktu itu. Katanya hanya membuang-buang uang saja.
Aku pun pulang ke rumah. Ku lihat mama sedang memasak. Hemm.. ku langkahkan kakiku ke kamarku, dan kurebahkan tubuhku di kasurku yang empuk ini. Huahh..sepertinya aku mengantuk. Aku pun tertidur.
Setelah tidur aku pun terbangun lagi. Aku memikirkan kado apa yang akan ku berikan pada Zahra? Akhirnya ku putuskan untuk membelikannya sebuah novel karya J.K Rowling dengan cara menabung. Mungkin dengan cara ini aku dapat membelikannya. Aku tak tahu apa Zahra akan menerimanya atau tidak.
Hari-hari berjalan seperti biasanya. Hanya saja setiap hari aku membawa bekal makanan dari rumah untuk menabung untuk membelikan kado untuk Zahra. Mama pun heran kenapa aku sekarang suka membawa bekal makanan dari rumah. Tapi aku menjawab agar lebih irit saja. Aku tak mau mama tahu kalau aku ingin membelikan Zahra sebuah novel. Tanggal 21 uangku sudah cukup untuk membelikan Zahra novel, ditemani Iqbal aku pergi ke salah satu toko buku di Jakarta Timur. Iqbal itu sahabatku. Ia pun tau kalau aku menyukai Zahra. Setelah selesai membeli kado untuk Zahra, dan sudah membungkusnya. Kami pun pulang, selagi aku menyebrang hampir saja aku tertabrak oleh Honda Jazz (asik keren), dan aku pun menyingkir kebelakang. Tiba-tiba.. steeeettt.. aku tertabrak motor. Sesaat aku sadar. Lalu semua gelap, aku tak sadarkan diri.
Tiba—tiba aku sudah berada di rumah sakit. Ku lihat mama,dan Iqbal sedang menangis melihat aku yang sedang koma. Tapi aku tak melihat Zahra ada di sini. Hey kemana dia?mungkin dia sudah tak peduli padaku. Aku tak tahu sejak kapan aku ada di rumah sakit ini. Aku mencoba berkomunikasi dengan mama, namun mama tak dapat melihatku. Begitu juga Iqbal.
Tiba-tiba dokter yang bertuliskan Dendy Muda N keluar dan mengabarkan kalau aku sudah tak bernyawa lagi. Lalu tangisan mama dan Iqbal pun pecah. Dan Iqbal mengabarkan ke teman-temanku termasuk Zahra kalau aku sudah tak ada lagi. 1jam kemudian Zahra datang, dan aku melihat ia menangis, lalu Iqbal memberikan bungkusan yang berisi novel yang sempat ku beli untuk Zahra. Lalu Zahra pun membukanya. Tetes demi tetes air mata meleleh dipipinya. Dilihatnya tulisanku di dalam buku itu “Selamat ulang tahun ya Zahra, maaf cuma bisa kasih ini. Jangan lupain Reza ya Zahra”. Hanya tulisan itu. Lalu Zahra teringat kalau hari ini ia sedang berulang tahun. Ia pun menangis dan berkata “terima kasih Reza, terimakasih akan semuanya. Harry Potter ini kenang-kenangan yang gak akan Zahra lupain deh.” Katanya dalam hati. Lalu Zahra memeluk kado pemberianku erat.
Setelah itu aku dimakamka. Udah cepetin aja dah.
Hari ini genap 1 tahun Reza meninggal, novel pemberian nya pun terbuka, tak ada angin disini. Aku tahu ia ada di sini. “terima kasih Reza” kataku. Dan lembaran-lembaran kertas Harry Potter pun tertutup.
Cinta Terlarang IV
16 Jan 2011 Leave a Comment
Sebenernya sih bingung ya mau ngasih judul apa? Abis ngawur sih ceritanya, bener-benr gak pake kerangka paragraf. Hem.. tapi apalah artinya sebuah judul
maaf-maaf gak lagi-lagi deh. (loh kok?)
Lanjutin aja yuk mari..
Selesai ngobrol-ngobrol kami pun pulang. Aku teringat candaan ade dan Ridwan, mereka akur banget. Mereka cocok deh. Aku urungkan rasa cintaku kepada Ade. ‘Benar kata Ridwan, aku sudah gila, masa suka dengan kembaranku sendiri. Mungkin ridwan lebih pantas untuk Ade, lagi pula aku dan Ade tak akan bersatu karna kami hanya saudara’ bisik batinku.
Hah mungkin akhir cerita yang ke tiga begitu, sekarang ke yang ke empat deh. Gimana ya mula nya? gak tau deh asla ketik yuk? Yuk yak yuk.
Aku memilih untuk mengalah. Hari-hari ku lewati seperti biasa nya. Alur cepetin deh.
Sekarang usiaku sudah 24 tahun, aku bekerja di perusahaan ayah, sedangkan Ade sudah menjadi guru disalah satu Sekolah Menengah di daerah Duren Sawit mengajar matematika. Hubungan aku dan Ade baik-baik saja. Tetapi Ade bilang aku rada pendieman belakangan ini. Hem.. mungkin ya? Aku pun mengelak dengan ngomong ngak kok De mungkin itu perasaan kamu aja. Dan Ade pun percaya. Hore..
Suatu hari aku mengajak Ridwan untuk bertemu empat mata di suatu caffe. Dan Ridwan menyetujuinya. Hem.. aku pun bergegas ke salah satu caffe yang kita sepakati. Sesampainya disana Ridwan sudah sampai lebih dahulu. “Udah lama Ridwan?” tanyaku. “Ngak kok, baru. Ada apa Dy? Tumben kayaknya serius nih.?” tanyanya. Aku pun langsung to the point saja.
“Aku boleh minta tolong?”
“Boleh, apa?”
“Tolong jaga Ade, karena aku sangat mencintainya.”
“Loh kenapa aku? Emang kamu mau kemana?”
“Tolong Ridwan.”
“Oke Dy.”
Kami pun melanjutkan makan, hauaha. Selesai itu aku serasa terburu-buru ingin pulang. Ada papa ini? Selagi di perjalanan aku merasa sangat leleah, tapi ku hiraukan lelah ku ini. Mataku sangat mengantuk. Tiba-tiba… WUAAHH… Ada truck besar di depan ku. Dengan refleks aku belokan stang motor dan aku terpelental. Dan aku tak sadarkan diri.
Tiba tiba aku melihat tubuhku dikerumuhan orang-orang. ‘Kenapa mereka tidak dapat melihat aku? Hey aku ada disini.’ aku berbicara. Akhirnya aku sadar kalau aku sudah tidak seperti manusia lagi. Jasadku pun dibawa ke rumah sakit. Aku melihat Ade, Ibu, ayah, dan Gita menangis terisak-isak. Aku melihat air mata mereka mengalir di pipi. Ku sentuh tangan ayah, namun ayah tak merespon. Ibu juga tidak, dan Ade mungkin ia bisa merasakan? ternyata tidak. Ridwan pun datang ke rumah sakit dan melihat jasadku yang penuh darah itu. Aku melihatnya menangis. Dan Ridwan menenangkan mereka. “Sabar tante, om, Ade, Gita, mungkin Tuhan sudah rindu dengan Ady. Yang tabah ya tante, om, Ade, Gita.” katanya berusaha menenangkan.”Wan tadi kamu bertemu dengan Ady kan?” tanya Ade. “ya, ada apa?” tanya Ridwan. “Apa Ady titip pesan terakhir?” tanya Ade. “Ada.” jawab Ridwan singkat. Lalu Ayah, ibu, Ade juga Gita menengok menatap Ridwan dan kompak berkata “apa?”. Ridwan menjawab “Ady bilang… Ady bilang aku suruh menjaga Ade, aku gak tau maksudnya apa.” kata Ridwan sambil menangis terisak-isak.”Apa maksudnya?” tanya Ade. “mungkin Ady tau kalau ia akan pergi jauh dan ia ingin kamu bahagia dengan Ridwan.” kata ayah. “Maksudnya yah? Ade gak ngerti.” kata Ade.Ayah tak menjawab. Rencananya jasad ku akan di makamkan besok pagi, karena aku mendengar mereka membicarakannya.
Besoknya harinya. Jasadku sudah bersih, sudah dimandikan juga, ku lihat teman-teman ku yang berduka cita atas kepergianku.
PAKE SUDUT PANDANG RIDWANNYA AJA, SOALNY ADY UDAH IS DEAD!
Setahun kemudian aku melamar Ade, karena pesan Ady yang menyuruhku untuk menjaganya, dan Ade pun menerimanya. Setelah lamaran, mempersiapkan perkawinan sudah dan aku dan Ade pun menikah.
Rumah tangga kami pun jarang ada pertengkaran. Sekarang kami memiliki anak laki-laki yang bernama Ady Nugroho untuk mengenang Ady yang jauh disana. Aku yakin Ady bahagia disana. Walaupun Ady sudah tiada disini aku tau ia tetap memperhatikan ku dan ade juga.
Selesai.
Cinta Terlarang III
16 Jan 2011 Leave a Comment
Langsung aja.
Aku terbangun dipagiku yang cerah. Ku tatapi Ade yang masih tertidur pulas. ‘Bangunin gak ya? Hemm.. gak usah deh kasian Ade pasti kecapean.’ batinku. Akhirnya ku putuskan untuk tidak membangunkan Ade yang sedang tertidur.Aku pun bergegas ke kamar mandi untuk mandi.
Selesai mandi aku menuju kamarku, ku lihat Ade sudah tak di kamarku, mungkin dia sudah bangun pikirku. Selesai rapih-rapih sehabis mandi aku turun ke bawah. Ternyata Ade sudah ada di ruang makan. yang lain sudah berkumpul tinggal aku saja yg belum muncul. Setelah semuanya hadir kami pun akhirnya makan. Selagi kami makan ayah bilang Ade akan bersekolah dengan ku, tapi Ade menolaknya.
Pas esok harinya (udah langsung cepet aja jadi senen dah) aku menceritakan semuanya pada sahabatku Ridwan. Mulai dari pertama aku bertemu Ade, sampai aku menyatakan perasaanku kepadanya. Dan Ridwan bilang aku gila, karena aku mencintai kembaranku sendiri. Lalu Ridwan ingin tau yang namanya Ade karena penasaran. Aku pun memberi tahunya.
Aku dan Ade menunggu Ridwan karena permintaan Ridwan yang ingin bertemu Ade. “Temen Ady mana sih? Lama banget.” kata Ade. “Iya tunggu sebentar lagi dia nyampe kok. Dia lagi diparkiran.” jawabku. “ngapain dia diparkiran? Aku mau ke kamar mandi dulu.” katanya dan berlalu pergi. Tak lama kemudian Ridwan datang. “Heh dari mana aja kamu? Ade jadi males tuh. Kamu telat gak kira-kira. Gak punya jam ya?” cerocosku pada Ridwan. “Weitz santai boy, seperti lagunya Cinta Laura ‘mana ujan gak ada ojek, becek cek cek. mana ujan gak ada ojek becek, macet. Jakarta macet bos. Maap gak tau.” kata Ridwan. Ya Ridwan emang lucu suka ngelawak. hahai (watak asli)
Tiba-tiba. “Ridwan?” kata Ade seperti tak percaya. “Ade?” Ridwan juga seperti tak percaya. “Loh Loh kalian udah saling kenal?” tanyaku heran.”Jadi kalian ini kembar?” tanya Ridwan setelah Ade duduk di sampingku. “Iya.” jawabku. “aku gak nyangka kalian gak ada mirip-miripnya.” kata Ridwan. “Yaelah Wan namanya juga kembar fraternal, kalo kembar identik noh baru kita mirip. Ya gak Dy?” jawab Ade. “yo’i.” jawabku singkat. “Eh tunggu kok kalian bisa kenal sih?” sambungku lagi. “Jelasin Wan.” kata Ade. “Jadi gini Dy, aku sama Ade itu dulu satu sekolah waktu SMP, satu kelas juga. Dan Ade nih behh.. bandel banget.” kat Ridwan. “eh ngak Dy Ade gak bandel kok. Si Ridwan nya aja nih yang ngada-ngada. Bohong.” kata Ade gak mau kalah. “haha kalian lucu deh.” ucapku.”Yang lucu tuh aku Dy, bukan Ade.” kata Ridwan. “Wah apaan orang yang lucu itu aku kok bukan kamu Ridwan.” kata Ade yg gak mau kalah. “Heleh aku pusing sendiri nih. Kalian lucu kok.” kataku.
Selesai ngobrol-ngobrol kami pun pulang. Aku teringat candaan ade dan Ridwan, mereka akur banget. Mereka cocok deh. Aku urungkan rasa cintaku kepada Ade. ‘Benar kata Ridwan, aku sudah gila, masa suka dengan kembaranku sendiri. Mungkin ridwan lebih pantas untuk Ade, lagi pula aku dan Ade tak akan bersatu karna kami hanya saudara’ bisik batinku.
Bagaimana kisah selanjutnya? Kita lihat saja nanti.
Cinta Terlarang II
16 Jan 2011 Leave a Comment
Tentu masih ingat dong cerita Cinta Terlarang I? Penasaran gak sama kelanjutannya? Kalo penasaran baca aja langsung yuks? Ayukss. Capcus cin. Lanjut deh . Hehe.
Apakah Ade mau tinggal bersama keluarga yang lama? atau tidak?
Langsung aja yak?
“Ade tinggal bareng ayah aja De? Kamu kan sendirian?” kata ayah. “Oh gak usah yah. Nanti Ade ngerepotin. Ade gak mau ngerepotin ayah sama bu Astrid.” kata Ade. “Oh gak ngerepotin kok De, malahan Ady sama Gita ada temennya nanti.” jawab ayah. “Ade, jangan panggil bu Astri panggil ibu aja.” ucap ibu. “Oh iya bu.” jawab Ade singkat. “Jadi gimana? Ade mau tinggal bareng kita lagi ga?” tanyaku to the point. “Ngak deh Dy Tapi makasih ya tawarannya.” kata Ade menolak tawaran sambil tersenyum. “Oh yaudah deh kalo Ade gak mau.” kataku.
Aku pulang bersama keluargaku, dan Ade pulang sendiri. Oh iya, tak lupa aku menyimpan nomor hape Ade. ya buat kontek lah. hehe. Sesampainya di rumah aku merebahkan tubuhku dikasurku yang empuk ini. Hari sudah malam. Aku sangat lelah. Waktunya tarik selimut, cuci kaki biar gak di gigit nyamuk, dan tidur. Didalam mimpiku aku bertemu Ade, kembaranku. Disini aku sedikit lupa dengan mimpiku sendiri. hehe maklum lah.
“Ady, bangun udah pagi.” kata ibu membangunkan ku untuk sekolah sambil mengetok-ngetok pintu kamarku. “Iya bu, Ady udah bangun kok.” jawabku. Denagn malas aku keluar dari kamar dan menuju kamar mandi untuk segera mandi dan berangkat sekolah. Semoga air yang dingin ini dapat menyegarkan ku pagi ini. selesai mandi aku menyampiri ayah, ibu, dan Gita untuk sarapan bersama. Mereka sudah menungguku. Selesai makan aku berengkat ke sekolah.
Oh ya aku punya seorang sahabat loh namanya Ridwan. Dia ganteng sih, juga pinter, tapi kadang-kadang suka gila. (bercanda kek. hehe) udah gua jadiin orang ganteng kan.? haha. Dia sahabat ku di SMA ini. Orang nya iseng banget deh ih, tapi lucu juga. Aku sudah menganggapnya saudaraku sendiri. Kami sering berbagi cerita bersama.
Selesai sekolah aku langsung pulang ke rumah. Tiba-tiba aku teringat oleh Ade. ‘Oh ya aku kan punya nomornya dia, kenapa gak kontek aja?’ pikirku. Lalu aku mengirimkan 1 buah pesan singkat untuknya. Sesuai dengan namanya pesan singkat, jadi pesanku singkat saja. “Maaf, ini Ade Afriyanti bukan?” begitulah pesanku. Dan Semenit kemudian handphone ku berbunyi tanda ada SMS. Dari Ade dan kami akhirnya ngobrol lewat pesan singkat atau sering juga di sebut SMSan gitu kali yee? hahai.
Setelah beberapa lama sepertinya rasa sayangku terhadapnya sebagai saudara telah berubah menjadi sayang terhadap kekasih. Tetapi aku dan dia tak boleh bercinta karna kami saudara. Aku sedih. ‘Andai kau tau De, kalau aku mencintaimu. Dan mungkin kau ada lah cintaku yang pertama. Karena aku baru sekali ini mencintai seorang wanita. Kenapa harus kau De? Kenapa aku harus mencintai kau? Kenapa aku tidak mencintai yang lain?’ batinku sedih dan menyesal.
Suatu saat aku memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaanku kepadanya. Tidak melalui telpon seluler. Aku janjian bersamanya di salah satu mall. Dan aku mengungkapkannya pada saat kami makan bersama. “De..” aku memulainya. “Iya apa Dy?” jawabnya. “Sebenarnya aku suka sama kamu De, rasa sayangku terhadapmu sebagai saudara berubah. Aku mencintaimu De.” kataku. Hatiku menjadi lega akhirnya. Ade menghentikan makannya. Dia menatapku aku kaget dibuatnya. Lalu Ade berkata “Saebenarnya aku juga mencintaimu Dy namun aku takut karena kita hanya saudara.” jawabnya.Ku genggam erat tangannya, dan aku mengajaknya untuk tinggal bersama kembali dan Ade pun akhirnya menyetujuinya.
Selasai makan, aku ikut ke tempat dimana Ade tinggal. Ade bersiap-siap merapihkan pakaiannya dan aku pun membantunya. Setelah selesai aku dan Ade langsung pergi ke rumah. Dengan menggunakan motorku ini kami melaju ke rumah bernomor 123 ini. Setelah sampai kami disambut oleh Gita, ayah dan ibu. “loh Ade?” kata ayah dan ibu heran. “Iya yah Ade boleh kan tinggal sama-sama kita?” tanyaku. “Boleh kok.” Aku menunjukan kamar barunya. “Rumah ini sudah banyak berubah ya Dy? Semakin luas saja.” katanya. Aku hanya tersenyum. “Kamarmu di sini. Dan kamarku di sana.” sambil menunjuk ke arah kamarku yang bercat biru itu. “Aku mau liat kamatmu.” kata Ade. Lalu masuk lah kami kekamar ku. Capek bercanda, aku dan Ade tertidur dikamarku.
Cinta Terlarang I
08 Jan 2011 Leave a Comment
“Cepet dong De. Lamaa banget sih kamu. Udah jam berapa nih?” kataku kepada kembaranku ini. “Iya Ady sabar sedikit kenapa?” jawab Ade. Ya Aku dan Ade memang kembar. Tetapi kami tidak kembar identik. Kami kembar fraternal atau dizigot. yang berasal dari dua sperma yang dibuahi dua telur secara pisah. Banyak yang tidak mengetahui kalau aku dan Ade kembar. Mungkin karena aku dan dia tidak mirip. Dan namanya pun tak hampir mirip. Aku Ady Herdianto dan kembaranku Ade Afriyanti. Waktu kamu SD dulu kami satu sekolah dan mereka menyangka kami kembar karena tanggal lahir yang sama. Namun sekarang setelah kami lulus SD kami pisah sekolah juga pisah rumah. Ayah dan ibuku cerai. Aku tak begitu mengerti mengapa mereka bercerai. Jika aku bertanya orang tua ku tak ingin memberitahunya kepada ku dan juga Ade. Aku ikut tinggal bersama ayah. Sedangkan Ade ikut tinggal bersama ibu. Tetapi orang tua ku seperti tidak ingin mengenal satu sama lain lagi. Mungkin mereka sudah saling benci.
Ayah menikah lagi dengan wanita lain. Dan mungkin ku rasa ibu tak tahu hal ini. Aku hidup bahagia dengan ayah dan ibu tiriku. Tidak seperti dicerita-cerita kalau ibu tiri selalu jahat. Ibu tiri ku sangat baik. Dia menyayangiku dan juga ayahku. Aku sekarang mempunyai adik. Adik dari ibu tiriku. Gita Agustina namanya. Aku cukup akur dengannya. Ayah pernah bilang kalau aku harus menjaga adikku Gita. Gita masih duduk di kelas 6 SD dan aku sudah duduk di kelas 8 SMP.
Cepetin aja ya alurnya
4 tahun kemudian.
Pada suatu hari aku, Gita, ayah, juga ibu pergi ke salah satu mall di kotaku untuk merayakan hari ulang tahunku yang ke 17. Ketika Gita, ayah, dan juga ibu sedang menunggu pesanan untuk kami aku izin ke toilet. Karena tidak hati-hati aku menabrak seorang perempuan cantik yang sedang berjalan. “Uppss sori aku gak sengaja” kataku tanpa melihat wajahnya. “Ngak papa kok.” jawabnya singkat. Ketika aku dan dia saling berhadapan tiba-tiba “Ady?” ucapnya. “ade?” tak kalah kaget aku dibuatnya.
“Sekarang Ady pangling ya sampe-sampe aku gak ngenalin deh. Oh iya Happy Birthday ya Dy, semoga jadi yang lebih baik lagi. ” kata Ade. “Iya amiiiin. Kamu juga ulang tahun kan? Happy birthday juga ya De. Kamu sama siapa ke sini?” tanya ku. “Aku kesini sendiri Dy.” jawabnya singkat. “Hem.. ibu mana? Gimana keadaan nya? Baik-baik saja bukan?” tanyaku panjang lebar. Ade menunduk dan lalu berkata “Ibu sudah tak ada Dy, ibu sudah meninggal 2 tahun yang lalu. Karena penyakitnya, dan kau tahu apa penyakit ibu?” tanyanya. “Apa?” jawabku terbawa ceritanya. “Ibu menderita kanker otak. Maka itu ibu menceraikan ayah. Karena ibu tidak kuat jika harus melihat ayah nangis terus-terusan dan ibu gak mau ngerepotin ayah.” katanya menjelaskan. “Inalillahi wainaliahi rojiun. Sekarang kamu tinggal sama siapa De?” tanyaku. “Aku tinggal sendiri. Aku bekerja sebagai guru les privat yang upahnya lumayan untuk bisa hidup di kota ini.” jawabnya. ‘Kau hebat Ade. Kau memang adikku yang paling hebat. Mungkin aku gak bisa jadi sepertimu.’ bisik batinku. Tiba-tiba ponsel ku berdering. ‘Astaga aku lupa kalau aku sedang makan bareng keluargaku. Segera aku matikan ponselku, lalu “Kenapa gak diangkat Dy? Dari cewekmu ya? Wahh Ady sekarang udah punya pacar yah?” canda Ade. “Ikut aku yuk?” aku tak mempedulikan candaannya, dan ku tarik tangan nya memasuki salah satu resto di mall ini. Dan ku lihat ayah melambai-lambaikan tangannya ke arahku. “Ady mau ngapain sih? Lepas dong!” kata Ade.
Sampainya di meja ayah, Gita adik ku pun bertanya “kak Ady itu siapa? Pacar kak Ady yah?”. Aku tak menanggapi pertanyaannya. “Ayo Ade duduk di sini” kataku. Ayah bingung dengan apa yang baru aku omongin. “Ade?” kata ayah heran. “Kau sudah besar nak, tambah cantik pula kau De. Mana ibu? Kenapa ibu mu tak ada di sini?” sambungnya lagi. “Ayah ceritanya panjang yah. Nanti aja dulu. Ade hebat loh yah. Sini De duduk di sampingku.” aku mengajaknya untuk duduk di samping ku. Sementara ibu tiriku (Astrid namanya ceritanya) dan Gita bingung melihat kita. “Ini siapa Dy?” tanya Ade sedikit berbisik sambil melirik ke arah bu Astrid dan Gita. “Itu ibu tiriku dab adikku.” jawabku dengan bisikan pelan. “Ibu, Gita ini kembaran Ady namanya Ade.” kataku. “Ade.” kata Ade sambil mengulurkan tanagnnya ke ibuku. “Bu astrid” ibu menerima tangan Ade yang lembut. “Ade” Ade memperkenalkan dirinya lagi ke Gita. “Gita. Kak Ade cantik ya bu?” kata Gita. Ade hanya tersenyum malu. Dan kami pun makan sambil berbincang-bincang.
Setelah selasai makan, ayah mengajak Ade untuk tinggal bersama kami kembali. Hemm apakah Ade mau tinggal bersama keluarga yang lama? atau tidak?
haha
Rumah baru? Cerita baru dong :)
19 Dec 2010 Leave a Comment
Siang ini cuaca terasa panas. Matahari pun enggan bersahabat dengan ku. Hari ini aku dan keluargaku akan pindah rumah ke rumah baru kami. Aku dan adik ku Dino bersiap-siap membereskan semua nya. Begitu juga mama dan papa. “Gea, Dino udah pada siap belum? ” teriak mama ku dari bawah. “Iya mah sebentar. ” jawab ku. Lalu aku dan Dino turun ke bawah. “Mama, kenapa sih kita harus pindah? Kan Dino udah enak di sini mah?” tanya adik ku yang polos itu. “Memang kita harus pindah Dino. Karena papa mu kan pekerjaannya juga pindah daerah” jawab mama. Aku dan papa hanya tersenyum. Lalu kami pun menuju rumah yang akan kami tempati nantinya.
Sesampainya di rumah baru aku dan Dino hanya bengong menatap rumah kami yang baru itu. “Ini rumah kita pah, mah?” tanya ku sedikit bingung. “Iya Gea. Ada apa? Kamu tidak suka?” tanya mama. “Hem.. menurut Gea ini terlalu besar mah untuk kita.” jawab ku. “Iya mah kata Dino juga terlalu besar untuk aku, mama, papa dan kak Gea” sambung Dino yang sependapat dengan ku. Mama dan papa hanya tersenyum kecil. Lalu kami masuk ke dalam rumah baru kami dan melihat seisi rumah ini. Lalu mama menunjukan kamar untuk ku dan Dino. Kamar kami bersebelahan.
Kami pun merapihkan kamar kami masing-masing. Rumah ini bertingkat 2 dengan cat berwarna creme. Ketika aku sedang merapihkan kamarku, aku merasa seperti ada yang lewat didepan kamarku. “Noo, Dino..” panggilku. Lalu ku beranikan diriku untuk melangkah keluar. Tidak ada orang. Sepi. Aku hiraukan kejadian itu. Aku terdiam sesaat. Dan HandPhone ku berdering. Huh mengagetkan saja. “dari Andi” bisik ku dalam hati. Lalu ku terima telpon dari pacarku. Aku memang tidak bilang kepada siapa-siapa tentang kepindahan rumah baru ku ini.
“Hallo sayang, kenapa kamu gak bilang mau pindah rumah? Kalo kamu bilang kan aku mau ikut. Aku kan mau tau rumah baru kamu itu dimana?”
“Aku capek. Ngantuk. Pusing.” jawabku singkat dan aku memutuskan telpon nya.
Sebenarnya hubungan ku dengan Andi tidak di dasari dengan cinta. Aku tidak mencintainya, namun Andi mencintaiku dengan tulus. Hubungan kami sudah berjalan cukup lama sekitar 6 bulan. Aku sudah sering meminta agar aku berstatus lajang. Tetapi Andi menolaknya.
Selesai merapihkan kamar aku tertidur pulas. Mungkin karena aku kecapean. Didalam mimpiku aku bertemu dengan keluarga lain. Mereka manusia dengan wajah menakutkan. Keluarga itu terdiri dari ayah, ibu, dua anak perempuan, dan seorang anak laki-laki yang sangat tampan. Aku tak tahu nama keluarga mereka. Tetapi aku tahu siapa nama laki-laki tampan itu. Namanya Joe. Keluarga mereka tinggal di atap rumah ku. Aku tak tahu bagaimana bisa. Joe bilang kalau mereka mahluk baik-baik. (Aku tidak bilang mereka manusia juga setan). Joe mempunyai hewan peliharaan. Hewan itu cukup aneh. Kelinci putih dengan kepala dua yang sangat besar. Dapat dibilang menakutkan.
“Kak Geaaaa, kak Geeaaa bangun kak.” kata Dino sembari menggoyang-goyangkan tubuhku. Aku langsung terbangun. “Iya Dino” kataku sambil mengumpulkan nyawaku yang masih tertinggal di alam mimpi sana. “Kak Gea kata mama Dino suruh banguni kak Gea terus kak Gea di suruh mama mandi abis itu kak Gea langsung ke meja makan, mama mau makan bersama katanya kak.” cerocos Dino adik ku. “Yaudah Dino duluan aja dih. Kak Gea mau melaksanakan tugas dari adik kak Gea yang paling ganteng ini.” kataku tak lupa mencium kening adikku ini. Dino pun berlari keluar dari kamarku.
Aku pun mandi. Setelah mandi sesuai dengan perintah adik ku aku pun turun ke bawah untuk makan bersama. Ternyata mama, papa, dan Dino sudah menunggu. Aku ingin menceritakan mimpiku kepada mereka, tetapi aku urungkan niatku. ‘Itu hanya mimpi. Dan mimpi adalah bunga tidur. Mungkin saja aku lupa berdoa sebelum tidur.’ batinku menenangkan. Selesai makan aku naik ke atas dan masuk ke kamarku. Saat aku ingin menyalahkan TV dikamarku tiba-tiba seperti ada yang lewat. Aih apa itu? Bulu kuduk ku yang kompak ini spontan berdiri. Hey kenapa? Kenapa seperti ini? Kenapa aku merasakan keganjalan di rumah ini? Ah mungkin hanya perasaan ku saja.
Karena sudah malam akhirnya aku tidur, tak lupa membaca doa sebelum tidur. Kembali lagi aku bermimpi bertemu keluarga Joe. Mereka seperti tidak suka dengan ku. Hanya Joe lah yang tersenyum ramah melihatku, dan aku balas senyum manisnya itu. Aku di ajak olehnya ke suatu tempat yang aku sendiri tidak tahu. Ia memberikan ku sebuah kalung untuk ku pakai. Katanya dengan memakai kalung itu aku tidak akan terlihat oleh keluarganya. Karna keluarganya memang tidak menyukai manusia.
Aku diajak ke kamarnya, seperti kamarku hanya saja ini lebih mewah. Ranjang yang terbuat dari emas, sedangkan aku hanya terbuat dari kayu. Lampu tidur yang terbuat dari perak, dan masih banyak lagi. “Joe aku suka tempat ini. Tempat ini benar-benar bagus. Aku baru pertama kali melihat tempat ini. Terimakasih Joe.” kataku. “Oh ya? Kamu senang? Aku juga senang jika kamu senang Gea.” jawabnya. Lalu kami berjalan-jalan lagi sungguh ini seperti rumah baruku. Namun ini lebih mewah.
Mentari menyambut pagi ku. Burung-burung berkicau membangunkan ku dari mimpi indahku semalam. Mama ikut serta membangunkan ku dengan mengetok-ngetok pintu kamarku dan berkata “Geeeeaaa bangun udah pagi!”. Aku yang masih mengantuk bangun. Tiba-tiba suara seorang lelaki yang sepertinya aku kenal memanggilku. papa? Bukan. Dino? bukan juga. Lalu siapa? Aku mencari sumber suara itu. “Geeeaa. Geaaa Gea aku disini. Aku disamping lemarimu.” katanya. Aku langsung menoleh ke samping lemariku. “Joe?” kataku singkat. Aku seolah tidak percaya jika di sini ada dia. “iya. Ini aku Joe.” jawabnya singkat. “Kenapa kamu ada disini? Bagaimana bisa kamu masuk ke kamarku?” tanyaku heran. “Aku bisa masuk ke sini kapan saja tanpa izin kamu. Sudah sana kamu mandi dulu.” katanya. Aku langsung menuju kamar mandi untuk mandi.
Selesai mandi aku sudah tidak melihat Joe lagi. Ku panggil namanya “Joee..” tak ada jawaban. Sekali Lagi “Joe..” juga tak ada jawaban. Mungkin ia tak dengar, dan sekali lagi lebih keras “JOOOOE” tak ada jawaban juga. Mama, papa dan Dino datang ke kamarku dan bertanya “ada apa Gea? Siapa Joe itu?”. Aku bertanya sambil menangis “mama, papa, Dino apa kalian melihat temanku Joe? Dia tinggi, putih, dan tampan.” tanyaku. “Kamu kenapa sayang?Tak ada siapa-siapa tadi.” kata mama cemas. “ngak mah. Ada temen Gea namanya Joe.” jawabku.
Lalu mama memelukku. “sabar sayang, tenangin diri kamu dulu.” kata mama. Dino dan papa hanya tersenyum.Lalu mama menyuruh Dino mengambilkan segelas air minum untukku. Dan aku mulai tenang. Setelah mama, papa dan Dino keluar, Joe muncul lagi. “Gea. Gea. Gea” panggil nya. Aku mulai pusing dibuatnya. “Kenapa mama, papa dan juga Doni tidak dapat melihat mu Joe? Kenapa hanya aku saja yg dapat melihatmu?” tanyaku histeris. Joe tidak menjawab, dan pergi begitu saja. Aku pun tak sadarkan diri.
Lalu mama masuk ke kamar dan memberikan sarapan untuk ku. Tuhan, terima kasih Engkau telah memberikan ibu terbaik untuk ku. Doa ku dalam hati. Ya dirumah ini memang tidak ada pembantu. Kata mama agar kita semua mandiri bisa hidup tanpa pembantu. terkadang aku kasihan terhadap ibuku ini. Tetapi beliau sangat hebat. beliau tak pernah mengeluh kecapean.
Hari ini sangat membosankan bagiku. Aku hanya dapat terbaring di tempat tidur ini. Aku telah merepotkan ibuku juga. Itu semua karna teman imajimasiku yang tak nyata, Joe. “Kenapa kau seperti ini Joe? Kenapa aku harus mempunyai teman imajimasi?” tanyaku menyesalinya. aku hanya bisa diam, diam, dan diam. Aku ingin bicara pada ibuku dan juga keluargaku. Namun niat itu aku urungkan besok saja pikirku.
Tak terasa waktu begitu cepat. Bulan sudah menyinari malam ini dengan indah. mama menyuruh ku untuk istirahat. Aku pun menurutinya. Mimpi, mimpi dan mimpi, mimpi itu datang lagi. Joe datang lg ke mimpi ku. Ia mengajak ku jalan jalan di sekitar rumahnya yang luas dan mewah itu. Tiba-tiba hewan peliharaan Joe, kelinci berkepala 2 raksaksa datang seperti ingin mencengkramku diikuti oleh keluarganya. “ini siapa Joe? kenapa kau bawa manusia ini?” tanya ibunya. Joe pun diam. Aku ketakutan. “ini teman Joe bu, Gea namanya. Aku mencintainya.” jawabnya gugup. “Apa? Apa kau sudah gila? Kenapa kau mencintai manusia?” tanyanya kaget. “Gea kenapa kau tidak memakai kalung itu?” tanya Joe. “Oh iya aku lupa.” jawabku. Karena kecerobohan ku kami pun menjadi seperti ini. Maafkan aku Joe.
“Cepat kamu kembali ke tempat tidur itu Gea dan tidurlah.” perintah Joe kepadaku. Tanpa mempedulikan semuanya aku langsung menuruti perkataan Joe. Dan hap aku tertidur pulas. Setelah aku terbangun tiba-tiba api sudah setengah melahap rumahku. Aku melihat ke jendela kamarku. Mama, Papa, dan Dino sudah diluar memanggil nama ku histeris. Ketika aku keluar aku menemukan surat dari Joe bahwa ia telah meminta maaf karna telah membakar rumah ku. Karna dia sayang kepada ku. dia tak mau mengingat semua kenangan kita. Dan aku menyesal tidak memberitahukan ini kepada keluargaku.
contoh pidato
23 Nov 2010 Leave a Comment
Asalamuallaikum Wr. Wb
Kepada Bapak Kepala Sekolah SMPN 167, wakil kepala sekolah, dan guru-guru yang saya hormati, serta teman-teman yang saya sayangi.
Alhamdulillah pada siang hari ini, kita dapat berkumpul dikelas dalam keadaan sehat wal afiat.
Baiklah teman-teman yang berbahagia, pada kesempatan ini saya akan menyampaikan uraian tentang “Dampak positif dan negatif penggunaan internet bagi pelajar”.
Apakah teman-teman tahu apa itu internet? Saya yakin teman-teman pasti tahu, karena internet sudah menyebarluas penggunaannya. Tidak hanya dikota tetapi didesa pun juga.
Internet mempunyai banyak manfaat diantaranya:
• Sumber segala informasi
• Media komunikasi yang murah
• Media bisnis
• Media pembelajaran online
• Sebagai media promosi
Disamping itu internet juga mempunyai dampak negatifnya, seperti:
• Dapat membuat orang kecanduan bermain internet
• Membuang-buang waktu saja
• Penculikan
• Penipuan
• Pornografi tanpa sensor
• Dan masih banyak lagi
Teman-teman jadi harus lebih hati-hati lagi.
Saran saya teman-teman harus berhati-hati lagi terhadap kegunaan internet ini.
Sekian uraian yang dapat saya sampaikan, semoga berguna bagi teman-teman sekalian. Bila ada salah-salah kata mohon maaf.
Wassalamualaikum Wr. Wb.
Kisahku!!!
19 Mar 2010 Leave a Comment
Aku segera berlari menuju kelas . Ternyata kelasku sudah ramai oleh teman -teman, aku pun masuk ke dalam kelas. “ Permisi saya boleh duduk disini? kata aku. “Oh silakan “ kata Dina. “Namamu Dina Mardiana? lalu aku memanggilmu siapa? “ kataku yang ingin mengenalnya. “Panggil saja Dina, aku sering dipanggil Dina. Kamu Ani Nurcahyati“ kata Dina. “Kamu bisa panggil aku Ani“ Jelasku. Kami pun berbincang –bincang bersama. Akhirnya bel pun berbunyi.
“Selamat siang adik-adik” kata kakak kelas yang membimbing kami. “Kakak mau mengenal kalian boleh gak?” kata kakak itu. ”Sebelumnya perkenalkan dulu kalian boleh panggil kakak, kak Nita.“ kata kak Nita.
“Oh ternyata namanya Nita , kak Nita” kata Dina. “Ia nama yang bagus ya Din.” kataku.”Kakak mau kalian memperkenalkan diri satu persatu di depan kelas. Mulai dari Rizki.” kata kak Nita. Setelah semua memperkenalkan diri satu persatu kami pun diajak belajar sambil bermain. Tidak terasa bel berbunyi tanda pergantian jam pelajaran. ”Sekian dulu dari kakak besok kita lanjut lagi ya?” kata kak Nita. ”Ia kak“ kata anak-anak serempak .
Oh ya saya lupa kami di tempatkan di kelas 7-4 . Kami pun berganti jam pelajaran . Ternyata yang masuk wali kelas kami sendiri “Selamat siang anak-anak” kata Bp. Munawir. ”Siang pak“ kata anak-anak serempak. Setelah kami berkenalan dengan Bp. Munawir yang akrab disebut Pak Wing. Kami pun memulai pelajaran itu. Murid-murid selalu ribut dengan pelajaran itu. Ntah tak tahu kenapa, saya pun ikut mengobrol dengan teman-teman saya , sampai – sampai pak wing memukul meja dan berteriak “ Diammm!”. Kami pun menjadi takut. Dalam sekejap kelas kami tenang tanpa ada yang berisik kami pun di suruh menyatat apa yg tadi di pelajari. Belum selesai mencatat bel pun berbunyi tanda pergantian jam.
“Selanjutnya kami di ajarkan dengan Bu Kiki. Guru Bk (Bimbingan Konseling) kami pun di beri tugas hanya menulis Nama,tanggal lahir, dan alasan masuk SMP ini. Setelah selesai tugas pun di kumpulkan. “Selesai tidak selesai kumpulkan“ kata Bu Kiki yang sedikit agak tegas. Bel pun berbunyi tanda istirahat, Aku dan Dina pun pergi ke kantin. Kami hanya membeli makanan ringan karena jika kami makan makanan besar sudah pasti mengantrinya lama.
”Din, kita beli makanan ringan saja yuk?” ajak ku .”Hmm, boleh tuh.” kata Dina, kami pun membelinya bersama–sama. Setelah itu kami makan di taman bersama-sama tak terasa bel pun berbunyi kami pun berwudhu untuk sholat. “Ayo din cepet bel udah bunyi tuh. ”Ia ia” kata Dina. Setelah sholat kami pun masuk kelas dengan perasaan takut. ”Assalamualaikum” kata ku dan Dina.”Waalaikum salam.” kata Pak Djoni. ”Dari mana kalian kok baru masuk?”sambungnya lagi .”Maaf Pak kami telat masuk kelas” kataku. ”Ya sudah kalian duduk. Kata Pak Djoni dan kami pun memulai belajar. Setelah selesai, kami pun pulang ke rumah masing-masing.
Besok harinya aku kembali ke sekolah hari itu sama dengan hari kemarin. Hanya sedikit saja yang berbeda setelah beberapa hari melewati MOS. Kami pun resmi menjadi siswa/siswi SMP. Kami pun sudah saling kenal tidak hanya dari kelas 7-4 dari kelas-kelas lain pun ada yg sebagian kami kenal. Aku dan Dina pun menjadi sahabat, kalau ada PR kelompok kami selalu bersama.
Hari-hari pun begitu cepat berlalu, Aku dan teman-teman lainnya akan melaksanakan UTS. Aku mempunyai target kalau aku harus bisa mencapai KKM dan di atas KKM. Aku pun berusaha semampuku untuk dapat memenuhi target tersebut .
Dan hasilnya aku pun dapat mencapai target rata-rata nilai ku 69,7 ya aku bulatkan menjadi 70 kecuali Bahas Inggris. Aku tak bisa mencapainya nilai Bahasa Inggris ku di bawah KKM. semangatku mulai berkobar lagi setelah mengetahui nilai rata-rata Dina lebih tinggi dari ku. ”Pokoknya aku harus bisa!” bisikku di dalam hati. Aku selalu berusaha mendapat nilai yg lebih baik dari Dina, tetapi aku jarang menang melawannya. Aku tidak akan patah semangat. Dina pun selalu membantu ku. “Ayo Ni, masa kamu kalah si?” kata Dina yang tak pernah bosan menyemangatiku. Selalu kata-kata itu yg keluar dari mulut Dina.
Akhirnya semester 1 pun selesai. Aku belum mengambil raportku. Ibuku yang mengambil rapot itu . Aku memilih tidak ikut mengambilnya, karena aku takut nilaiku jelek. Dan ternyata aku masuk 5 besar, betapa senangnya hatiku. Segeralah aku menelepon Dina dan mengucapkan selamat padanya. Karena Dina peringkat ke tiga.
Akhirnya libur pun tiba . Aku dan keluargaku berwisata ke Taman Raya Bogor. Sedangkan Dina dan kelurganya berlibur ke Bandung. Liburan kali ini liburan yang sangat seru. Karena jarang jarang aku dapat berkumpul dengan anggota keluargaku. Rasanya berlama–lama aku bersama mereka.
Liburan pun sudah habis aku harus kembali ke sekolah. Aku ingin menceritakan semua ini kepada Dina. Setelah sampai disekolah aku mencari Dina dan menceritakan semua padanya. Dina pun begitu ia menceritakan semua waktu liburannya kepada aku. Kami pun bercanda–canda. Setelah itu kami pun masuk kelas dan melanjutkan ceritanya. Aku beruntung mempunyai sahabat sebaik Dina. Hari–hariku selalu diwarnai oleh canda dan tawa.
Sampai suatu saat Dina mencariku dan bercerita . “Ni aku lagi jatuh cinta ni sama cowok.“ kata Dina. “Namanya siapa Din ?” kataku menanggapinya. “Namanya Cahyo. Ihh ya ampun ganteng dah tuh orang.” kata Dina. “Oh emang seganteng apa si,sampai-sampai kamu tergila–gila sama dia?” kataku.
“Pokoknya Lee Min Hoo, Kim Bum lewat dah hahaha.“ kata Dina yang mencoba membuat kami tertawa. “Hmm, tapi ingat ya jangan lupain pelajaran. Itu pesanku aja buat sahabatku yang satu ini.” kataku. “Siap bu guru.” kata Dina. ”Ya udah yuk kita ke kelas?” ajakku kepada Dina. Kami pun akhirnya masuk kelas.
Tidak lama bel pun berbunyi tanda masuk sekolah. Kami pun langsung berbaris dengan tertib. Setelah itu kami memulai pelajaran. Dengan serius kami mengikuti pelajaran. Hari–hari yang sama kami lalui bersama . Setelah beberapa hari, minggu, Dina pun bercerita . “Aniiiiiii… aku punya kabar gembira !!!” kata Dina yang tiba muncul di hadapanku. “Ehh Dina ngagetin aja si?? Untung aja aku nggak jantungan.” kataku sedikit kesal. “Ia ia maaf deh, salah lagi deh aku.” Kata Dina yang sedang senang. “Dari raut wajahmu kayanya lagi senang banget nih?” kataku. ”Yee dasar Anni dodol kan kataku aku punya kabar gembira mau tau ga Ni?? Mau tau ?? Mauuu tau aja… Haha.” kata Dina yang sedang tertawa. “Ya udah deh kalau gak boleh tau.” kataku. “Ga usah nangis Ni, aku Cuma bercanda. Jadi aku sama Cahyo yang pernah aku ceritain itu, kami udah menjadi sepasang kekasih resmi kemarin!!” kata Dina “Oh selamat ya??” kataku memberi ucapan.
“Ya Din, Btw mana nih PJ-nya?” kataku. ”PJ apaan tuh?” kata Dina. “pajak jadian?” kataku . Wkwkwk minta aja sana ama nenek moyangmu hahaha.” Kata Dina dengan tertawa. “Dina nyebelin ahh, aku benci Dina.” Kataku sambil bercanda. “Yee aku kan Cuma bercanda, ko kamu ngambek sih??” kata Dina. “Satu orang kena tipu aku. Haha” kataku sambil tertawa. Kami pun bercanda-canda.
Hari-hari kita lewati bersama tetapi ada yang ganjal disini. “Kenapa nilai–nilai Dina menjadi menurun.” Pikirku. Dan aku bertanya kepada Dina, “Din, kok nilai–nilai kamu pada menurun sih? Kenapa kamu ada masalah?” Kataku. ”Ah masa sih? Nilai kamu aja yang ketinggian kali Nii?” kata Dina dengan tenang. Suatu hari aku ingin mengajak Dina belajar bersama, akan tetapi dia menolak. ”Din belajar kelompok yuk? Bareng ama teman-teman yang lain?” ajakku. ”Hmm… ga ahh males aku, lagi gak enak badan aku.” kata Dina. ”Oh ya sudah moga cepet sembuh aja ya?” kata ku. “Thanks ya Ni kamu emang sahabat paling baik yang pernah aku miliki.” Kata Dina dengan senyum. ”Ahh bisa aja kamu Din.” kata ku yang hampir terbang dengan pujiannya. ”Ya sudah mau aku antar pulang gak?” kataku sambil memberikan tawaran jasa. ”Gak usah Ni, aku bisa sendiri kok.“ kata Dina . “Kok akhir-akhir ini Dina sedikit berubah yah?“ piki ku dalam hati. Nilai–nilainya sekarang menurun, diajak belajar kelompok gak mau, kenapa yah?“ pikirku lagi. “Biarkan saja sekarang udah mau MID kedua aku harus lebih rajin belajar. Agar mama dan papa tidak kecewa dan aku tidak nyesel nantinya.“ kata ku. “Semangat Ani, kamu pasti bias.” kata ku menyemangati diri.
Setelah Mid semester aku pun mendapat hasil yang lebih tinggi dari yang lalu. Tapi tetap saja Bahasa Inggris tidak tuntas lagi dan di bawah KKM lagi, tapi aku cukup senang dan hasil rata–ratanya 78,9. Ih wow meningkat sekali hasil belajarku selama ini. Tetapi di samping itu Dina merasa menyesal karena nilai–nilainya kecil. “Ni maafin aku yah, aku gak dengerin kata–kata kamu” kata Dina . “Oh enggak gapapa kok Din, Tapi ada syaratnya kamu harus belajar lebih giat baru aku mau maafin, mau gak?” kataku pada Dina sambil tersenyum. “Ok dah aku belajar lebih giat lagi” kata Dina. “Ya aku percaya kok. Oh ya gimana kabar kamu sama Cahyo?” tanyaku. “Hmm… aku udah putus ama dia.” kata Dina. “Ya ampun kok bisa? Gimana ceritanya?” tanyaku penasaran. “Ani udah deh gak usah di bahas lagi, Aku males bahas masalah ini lagi.” kata Dina sambil mengalihkan pembicaraan. “Gimana hasil MID kamu?” sambung Dina. “Hmm… Alhamdulillah hasilnya lumayan bagus, meningkat lebih tinggi dari semester I.” kataku dengan senang.
“Oh… selamat ya akhirnya kamu bisa mengahlahkan aku, tapi aku akan lebih semangat lagi dari kamu.” kata Dina yang tidak mau kalah.
Hari–hari terus berganti aku dan Dina selalu berlomba–lomba agar mendapatkan hasil yang baik. Walau begitu persahabatan kita baik–baik saja. Akhiranya pengambilan raport, Aku ikut dengan ibuku ke sekolah. Dan ternyata Aku dan Dina peringkat 4. Kita sama sama peringkat 4. Wow menakjubkan sekali. Aku gak nyangka ternyata hasil kita sama setelah mengambil raport aku dan Dina pun mengambil undian yang berisi Pagi dan Siang kami yakin kami masuk pagi. Ternyata benar, kita mendapat kata Pagi betapa senangnya kami dapat bersama sama lagi. Setelah itu aku dan ibuku pulang. Tetapi Dina dan ayah nya belum pulang karena nomor absen aku dengan dia berbeda.
Akhirnya libur lagi, tetapi berbeda dengan liburan kemarin aku memilih untuk menghabiskan waktu liburku untuk membeli dan membaca buku buku. walaupun sedikit bosan tetapi aku senang karena aku dapat membaca dan menambah ilmu aku lebih banyak. Dina pun menghabiskan waktu nya untuk berliburnya untuk menginap kerumah nenek dan kakeknya. Setelah berlibur dan aku harus kembali ke sekolah akupun segera melihat papan pengumuman ternyata aku dan Dina akan belajar di kelas 8-6 dengan wali kelas yang dulu Bapak Munawir (Pak Wing). “yah Din kita wali kelasnya sama saja Din masih pak Wing haha“ kata ku. Bosan aku dengan dia.” kata Dina. ”Nikmati sajalah. Haha.” Kata ku.” “Ya ya ya. Oh iya kita dulu nya berdua aja yuk Ni.” kata Dina. yang mengajakku. ”Hmm kenapa gak bisa jauh dari aku ya Din? Haha. Ia ia kita duduk bareng- bareng.” Kataku.
Akhirnya kami pun masuk kelas dan memilih tempat duduk yang tepat kami duduk di depan guru. Setelah itu kami di suruh mencatat jadwal pelajaran dan kami memilih pengurus kelas 8-6 setelah selesai kami membagikan tugas piket. Aku piket pada haru kamis dan Dina pada hari senin. Ada juga teman–teman yang dari kelas 7-4 , ada Restu, Mega dan Tika. Aku duduk di depan lalu Restu dan Andi duduk dibelakang kami. Tidak terasa kami begitu dekat dengan Restu dan Andi, sampai akhirnya kita selalu bersama-sama . Kami pun punya prinsip jika ada di antara kami yang ulang tahun akan dijahili sampai abis–abisan. Kami pun mempunyai sebutan atau panggilan akrab. Aku = Jenong, Dina = Lebay, Restu = Bogel dan Andi = Dono. Har –hari kami pun penuh canda dan tawa. Selama 1 semester kita bersama dan jika UAS kita pun selalu 1 ruangan.
Pada suatu hari kami berjanji akan masuk 10 besar di kelas 8-6 ternyata itu terjadi. Juara Pertama Restu, kedua Dina, kedelapan aku dan kesepuluh Andi. Restu menang dan Andi harus meneraktir kita semua, Kami semua di teraktir Andi. Semester 2 Dina sudah mempunyai kekasih baru yang bernama Ian. Mereka adalah pasangan yang sangat cocok hubungan mereka semakin lama, sekitar 4 bulan berjalan. Pada akhir–akhir ini ada yang sering memberi kabar angin kepada Dina lewat telepon dengan menggunakan nomor pribadi dan memberitahu kalau Ian sang pacar Dina telah berselingkuh dengan cewek lain. Segeralah Dina menelepon Ian dan meminta putus. Beberapa kali Ian menelepon Dina tetapi tidak ada jawaban. Ian pun menerima keputusan itu dengan berat hati.
“Dina…!” kataku mengagetkannya. “Ani , kenapa Ni?” kata Dina yang sedang murung. “Gamama Cuma nyapa aja, kok kamu murung??” tanya aku. “Yee bukan gamama tapi gapapa gimana sih kamu Ni?” kata Dina. “Aku suka aja bilang gamama dari pada gapapa, kenapa kamu kok murung? Pasti ada masalah ya?” tanya aku yang sok tahu. “Hmmm.. Ia nih Ni aku baru putus dari Ian, Dia selingkuh..” kata Dina. “Kok bisa Din? memangnya sudah terbukti kalau Ian itu selingkuh?” tanya aku dengan heran. “Belum sih tapi ada cewek yang menelepon aku dengan nomor pribadi, dan cewek itu yang kasih tau kalau Ian itu selingkuh.” kata Dina yang menjelaskannya. “Hmm…menurut aku, kamu tuh jangan berpikiran negative dulu. Belum tentukan yang di bilang cewek itu benar. Coba deh kamu selidikin terlebih dahulu.” kataku yang memberi saran ke Dina. “Tapi tiba–tiba aku percaya gitu aja ya ma cewek itu ?” kata Dina. “Wah parah kamu, kalau begitu berarti kamu main hakim sendiri… gak baik tuh Din?” kataku. “Ia Ani ku sayong, maaf deh.” kata Dina.
Setelah Dina mengetahui bahwa Ian tidak selingkuh barulah Dina menyesalinya, dan Dina berusaha untuk meminta maaf kepada Ian. Sebaliknya Ian pun sudah memaafkan kejadian itu, dan Ian pun sudah melupakan kejadian itu.Tiba-tiba Ian bercerita kepada Dina bahwa sahabatnya Ani telah menyatakan cinta kepada Ian. Dina pun marah besar dan menyebut nama Ani sebagai sahabat makan sahabat. Setelah itu Dina pun tak mau berbicara sepatah katapun dengan Ani. Ani pun berkali–kali minta maaf pada Dina, akan tetapi sayangnya tidak mau memaafkanya. Sampai–sampai Ani harus pindah tempat duduk. Sudah lebih dari 1 bulan Dina marah padaku, aku pun tidak tahu kenapa dia semarah ini padaku. Setelah aku bertanya pada teman-temannya aku pun baru tau kalau Dina marah padaku karena dia menyangka aku telah menyatakan cinta pada Ian. Aku pun berusaha mencoba berbicara pada Ian. Teman-teman mencoba agar aku dan Dina baikan dan tetapi berhubungan lagi. Sampai–sampai lagu changcuter senandung pertemanan “Persahabatan Dina Ani, tak akan terpisah oleh cowok.” Semua mencoba Aku dan Dina baikan tapi itu sia–sia akhirnya. Dina begitu membenci ku pada suatu saat aku tidak sengaja bersentuhan denganya. Dan begitu sakit hatiku setelah mendengar. “Ihh… Najis dah aku kena Virus FLU BABI. Aduh bersihin dong, gimana sii?” kata Dina. Aku yang mendengar itu semua hanya diam 1000 bahasa. Sampai salah satu guru yang dekat dengan Dina berkata “Marah lebih dari 3 hari dosa loh Din?“. Aku dan Dina pun hanya dapat diam, teman-teman aku tertawa dan berkata-kata “Tau tuh pak, omelin aja pak.“. Aku bingung dengan masalah ini, aku yang tidak bersalah kok malah disalahin, kan aneh! Sampai-sampai teman-teman di kelas memanggilku dengan sebutan sahabat makan sahabat, penghianat, dan lain-lain.
Mungkin ini jalan takdirku dibenci oleh sahabat sendiri karena kesalah pahaman
Pahlawan Tanpa Tanda Jasa
27 Dec 2009 Leave a Comment
Pada tahun 2000 hiduplah seorang anak yang bernama Joko. Ia sedang menyelesaikan kuliahnya di Universitas Negeri Jakarta. Ia termasuk dalam keluarga yang kurang mampu. Meskipun ia hidup dalam keluarga yang kurang mampu tetapi, ia tetap tegar dalam menghadapi cobaan.Bahkan untuk makan pun sulit.Ia harus bekerja keras siang malam untuk mencari sesuap nasi.Pada pagi hari ia harus kuliah, setelah kuliah dia harus bekerja disalah satu restaurant untuk mencuci piring. Selesai mencuci piring ia harus menjadi tukang ojek didekat rumahnya. Motor yang dipakai untuk mengojek pun bukan miliknya. Dia hanya meminjam motor milik temannya.Hasil dari pekerjaannya itu harus dibagi rata dengan temannya yang memiliki motor tersebut. Temannya bernama Beni. Beni pun begitu baik, ia tidak meminta imbalan dari Joko. Pada tahun 2001 Joko pun lulus kuliah dengan nilai yang cukup tinggi."Akhirnya, saya lulus dengan nilai yang cukup tinggi." kata Joko.
Tetapi setelah dia lulus, ia pun menjadi pengangururan, karena restaurant tempat ia bekerja kini telah bangkrut. Belum lagi temannya yang mau pindah rumah. "Jok, aku ingin pindah rumah sekarang. Maaf ya Jok??"kata Beni. "Ia, tidak apa apa. Mau pindah kemana kamu Ben??" tanya Joko."rencananya si aku mau pindah ke Jawa Barat." jawab Beni.Sekarang ibunya mulai sakit sakitan dan harus dibawa kerumah sakit. "Aduh gimana nih ibu sekarang sakit sakitan sementara aku tidak punya uang untuk membawa ibu kerumah sakit." kata Joko. Karena biaya yang cukup besar membuat Joko tidak dapat membawa ibunya ke rumah sakit.Akhirnya Joko meminjam uang ke salah satu temannya. "Rey, kalau boleh saya pinjam uang dong!!Untuk ibu. Sekarang ibuku sedang sakit-sakitan." kata Joko dengan sopan. "Ok deh kita kan teman, semoga uang ini dapat membantumu." kata Reynaldi sambil memberi uangnya. "Terima kasih ya Rey, aku tak tahu lagi harus bagaimana cara membalas budi baikmu." kata Joko dengan gembira. "Oh tidak apa apa ko Jok aku juga senang bisa membantumu. Sekarang cepat kamu pulang dan bawa ibumu ke rumah sakit." kata Reynaldi.Akhirnya dengan senang Joko pulang kerumah. Betapa kagetnya dia setelah mengetahui ibunya telah pergi meninggalkannya untuk selamanya Joko pun hanya bisa menyesali hidupnya.Ia pun tetap tabah menjalani hidupnya.Dan sekarang ia harus menafkahi ketiga adiknya yang masih kecil yaitu Lara, Ardi, dan Ina."Aku harus mencari pekerjaan." kata Joko dengan semangat.Setelah Joko mencari pekerjaan kesana kemari ia tidak diterima disana dan disini.Akhirnya Joko pun memilih untuk mengajar di jalan raya. Dengan buku-buku seadanya dan murid-murid yang tidak banyak akhirnya Joko menjadi guru.Tetapi dengan pengajaran Joko dijalan raya banyak preman preman yang tidak suka dengan kehadiran pengajaran disana."Heh ngapain kalian belajar??" tanya preman preman itu dengan seonoh onoh. "Apakah anda bisa sopan terhadap anak anak kecil ini??" jawab Joko dengan sopan. "Ohh rupanya engkau tidak tahu siapa aku??" jawab preman itu dengan nada yang kesal.Murid murid pun ketakutan atas adanya preman preman itu. Akhirnya sedikit demi sedikit murid murid itu pun pergi."Ok kita omongin masalah ini dengan kepala dingin." kata Joko. "Saya mau sekarang juga kita omongin." kata preman itu.Akhirnya mereka membicarakan masalah tersebut.
Setelah dibicarakan baik baik akhirnya masalah itu selesai. Selesai dari masalah itu datanglah masalah baru dengan orang tua murid.Ada yang setuju dengan sekolah itu dan ada juga yang tidak setuju. Dari orang tua murid mengatakan bahwa “Kalau anda saja yang sekolah tinggi saja masih jadi guru yang tidak digaji. Apalagi anak anak kami. Kami juga keluarga kurang mampu, tidak bisa menyekolahkan mereka ke sekolah yang lebih tinggi lagi.” kata salah satu orang tua murid yang anaknya ingin tetap sekolah. “Ibu-ibu ini semua salah besar!! Dengan sekolah kita tidak mudah untuk dibohongi oleh orang lain. Saya memilih mengajar di sini karena saya kasihan dengan anak-anak disini.” jawab Joko dengan tegas. “Jadi apa salah kita mengajarkan anak anak kita mulai dari yang kecil?” sambung Joko lagi. “Maaf pak kita semua tidak tahu. maafkan kami pak karena kami sok tahu.”kata salah satu orang tua murid. “Jadi apa boleh saya lanjutkan sekolah ini?” kata Joko. “Boleh.” kata ibu ibu setempat.
Setelah lama Joko mengajar lalu teman lamanya datang. “Assalamualaikum.” sapa Rio sopan. “Waalaikum salam.” jawab Joko. “Rio apa kabar??” tanya Joko. “Baik kawan. bagaimana denganmu?” tanya Rio kembali. “Baik baik juga. Ohh ya sebentar dulu ya saya ingin mengajar murid muridku.” jawab Joko. “Ohh ia maaf ganggu.” jawab Rio. Selesai mengajar, Rio dan Joko akhirnya mereka mengobrol. Dan ternyata Rio mempunyai pekerjaan untuk Joko. Joko pun senang sekali bisa mengajar di salah satu Sd di Jakarta. “Akhirnya aku bisa juga mengajar di salah satu sekolah di Jakarta.” kata Joko. Akhirnya Joko dan ketiga adiknya dapat hidup bahagia dan sukses berkat ketabahannya, dan kesabarannya dalam menghadapi cobaan.
legenda 2005
27 Dec 2009 2 Comments
Pada suatu hari di Kalimantan, jauh dari desa, hiduplah seorang janda miskin dan gadis cantik. Janda itu bernama Jumena, sedangkan anaknya bernama Aminah. Aminah itu anak dari Jumena. Mereka bertempat tinggal di sebuah bukit yang jauh dari desa. Perilaku Aminah dengan Jumena sangat berbeda-beda, walaupun mereka sebagai ibu dan anak. Aminah sangat malas, ia tidak mau membantu ibunya untuk bekerja. Kerjaan Aminah pun hanya mementingkan penampilan sendiri saja. Ia juga anak yang keras kepala. Setiap Aminah meminta sesuatu, Jumena harus mengabulkannya.
Pada suatu hari Aminah ingin ke kota (Jakarta). Akan tetapi sang ibu melarangnya untuk pergi ke sana. Tetapi Aminah tetap nekad untuk pergi ke kota. “Massa bodo,, pokoknya saya harus pergi ke kota, saya ingin kaya raya.” Kata Aminah. Akhirnya Aminah pergi ke kota dengan sembunyi-sembunyi tanpa ketahuan sang ibu. Ia membawa harta benda milik ibunya untuk pergi ke kota.Ia ke kota hanya sendiri. Waktu Aminah sedang di bus, ia ketiduran karena kecapean. Dia tidur dengan pulas sehingga tidak terasa kalau tas dan dompetnya sudah di tangan orang lain. Ia pun bingung harus bayar dengan apa, karena uangnaya sudah tidak ada. Akhirnya ia berikan perhiasannya kepada pak supir. “Maaf pak supir ini sebagai bayaran ongkos tadi.” Lalu Aminah pun di turunkan di kota Jakarta. Perutnya pun berteriak- teriak minta diisi. “Duhh, lapar!! tetapi uang sudah tidak ada.” katanya mengeluh sambil memegang perutnya. Akhirnya ia mencuri sepotong kue disuatu warung kecil. Akan tetapi dia mempunyai nasib buruk ketahuan sedang mencuri kue tersebut, lalu ia di hukum, dia disuruh mencuci piring dan menjaga warung tersebut. Sewaktu dia sedang mencuci piring Aminah di colek oleh pelanggan yang jail. “Hai… Boleh kenalan enggak?” kata Rio yang kurang sopan itu. “Ikh.. Apa sih,, iseng banget.” jawab Aminah dengan sinis. “Emangnya abang punya apa?Kalau abang punya uang banyak, saya mau ikut abang.” kata Aminah . “Benar ya,kamu mau ikut abang, jika abang punya uang banyak.” kata Rio dengan gembira. “Ia, saya mau ikut abang, mana tunjukan uangmu?” kata Aminah. “Nih uang saya.” Kata Rio sambil menunjukan uangnya. “Oke, saya mau ikut abang.” Kata Aminah sambil menyelesaikan cucian piringnya.Bayangan Aminah hanya uang yang banyak.
Setelah mereka sampai di suatu cafe yang letaknya lumayan jauh dari kota Jakarta, di sana ada teman dari Rio. Lalu Aminah di perkenalkan dengan temannya Rio.”Aminah, perkenalkan dia adalah teman saya namanya Andi.” kata Rio yang memperkenalkannya kepada Aminah. “Aminah” kata Aminah memperkenalkan diri. “Andi” kata Andi. “Ya sudah, saya tinggal sebentar dulu ya?” kata Rio. “Ta,,,ta,, tapi..” kata Aminah membantah. Akhirnya Andi dan Aminah mengobrol berdua di cafe tersebut. Setelah mengobrol beberapa lama, akhirnya Rio datang. “Duh.. Maaf ya ganggu.” kata Rio. “Akh,, enggak kok,, kamu kesini enggak mengganggu kita.” jawab Andi. “Ini juga sudah selesai mengobrolnya.” kata Aminah. “Ya sudah, kami berdua pulang dulu ya Ndi?” kata Rio dengan sopan. “Ohh ia.. Makasih ya Yo?” jawab Andi. “ya sudah kita pamit.” kata Aminah.
Setelah di tengah jalan Aminah sempat berhenti sejenak. “Kamu kenapa berhenti?” tanya Rio heran. “Enggak kok, saya hanya bingung saja, saya disini mau tinggal dengan siapa? Sedangkan saya tidak punya keluarga di Jakarta?” jawab Aminah. “Owh itu masalahnya?” jawab Rio tenang. “Memangnya kamu punya solusi yang tepat?” tanya Aminah dengan penuh penasaran. “Ada, kalau kamu menginap di rumahku bagaimana?” kata Rio memberi usul. “Tetapi apa kata tetangga kalau aku menginap di rumahmu?” jawab Aminah dengan rasa takut. “Ya elah, itu mah urusan belakangan. Sudah kamu lebih baik menginap di rumahku. Bagaimana? Mau enggak? Ya, tetapi terserah kamu.” kata Rio. “Ya sudah tetapi hanya untuk 1 hari saja ya?” janji Aminah. “Ok deh..” jawab Rio lagi.. Akhirnya mereka melanjutkan perjalanannya, hingga ke rumahnya Rio. Lalu mereka beristirahat. Setelah paginya Rio pun bangun, tetapi Aminah belum juga bangun dalam tidurnya. Sampai-sampai Rio harus membangunkan Aminah. “Aminah,, bangun bangun,, sudah siang nih. Kita harus ke Andi sekarang.” teriak Rio dari luar. “Ia ia ini juga sudah bangun kok.” kata Aminah. Setelah bersiap-siap untuk pergi, mereka pun langsung pergi. Mereka pergi ke cafe yg kemarin tempat mereka untuk ketemuan. Setelah sampai mereka pun langsung mencari Andi.
Ternyata Andi sudah menunggunya dari tadi. Lalu mereka pun menuju ke Andi. Andi pun langsung menawarkan pekerjaannya itu kepada Aminah. “Jadi bagaimana? Apakah kamu sudah siap untuk bekerja” tanya Andi. “Ia saya siap untuk bekerja.”jawab Aminah.”Jadi, apa pekrjaanku?” tanya Aminah dengan penuh penasaran. “Pekerjaanmu sebagai PSK (Pekerja Seks Komersil)”jawab Andi. “ Owh tidak, masa saya harus PSK? Nanti apa kata orang?” bantah Aminah. “Ingat hanya dengan cara ini kamu bisa menjadi orang kaya.” kata Andi yang sedang membujuk Aminah agar ia tetap ingin di jual. “Owh baiklah.” jawab Aminah terpaksa. Setelah selesai mengobrol mereka pun langsung pulang. “Teryata hidup di kota enak juga ya?” kata Aminah dengan senang. “Ya, memang hidup di Jakarta itu memang menyenangkan.” jawab Rio. Mulanya Aminah hanya berjanji untuk menginap di rumah Rio untuk semalam. Tetapi ia lupa akan janjinya itu. Sampai akhirnya Aminah pun diprotes oleh para masyarakat karena Rio tidak melaporkan bahwa di rumahnya ada Aminah. Akhirnya Aminah pun pergi dari rumah Rio. Ia sekarang sudah menjadi orang kaya. Dan ia sudah punya rumah sendiri. Sekarang pun Aminah sudah menjadi pelacur. Mulanya ia tidak biasa,tetapi setelah lama-kelamaan ia pun menjadi biasa akan keadaannya. Ia sekarang mengganti namanya dengan nama Mira. Ia pun menjadi primadona di tempat pelacuran tersebut.
Pada suatu hari ibunya,Jumena pergi ke Jakarta untuk mencari anaknya. Setelah di cari kemana-mana, ibunya pun bingung kemana anak tersebut. Hingga akhirnya Jumena mendapat info dari masyarakat setempat bahwa anaknya sekarang menjadi PSK. Dengan di antar salah satu warga setempat ibunya pun pergi ke tempat Mira menjadi PSK. Selagi di perjalanan menuju tempat pelacuran, tiba-tiba ada segerombolan preman-preman yg mau mengganggu si Jumena, akan teteapi semua itu sia-sia. Orang yang mengantarkan Jumena mempunyai ilmu bela diri yang kuat. Setelah sampai di tempat pelacuran tersebut, Mira pun tidak mau mengakui bahwa itu adalah ibunya. “Aminah anakku…” kata sang ibu yang ingin memeluknya di depan banyak orang. Tetapi betapa terkejutnya sang ibu ketika mendengar jawaban dari Mira. “Maaf, siapa dirimu? Saya tidak pernah mengenalmu?” jawab Mira dengan sombong. “Mira, siapakah dia?” Tanya pelacur yang lainnya.”Owh.. Bukan, bukan dia bukan siapa-siapa ku.” jawab Mira.
“Aku adalah ibumu nak..” kata ibunya dgn raut wajah yg memelas. “Saya sudah lama ditinggal mati ibuku” jawab Mira dengan kesombongannya. Lalu dengan cara tidak sopan, Jumena pun di usir oleh Mira anaknya. “Pergilah kau dari sini, dan jangan ganggu hidupku lagi.” bentak Mira. Akhirnya Jumena pun pulang ke Kalimantan.. setelah 5 tahun kemudian, Mira mulai sakit-sakitan orang-orang pun tidak mau berteman dengannya. Penyakitnya sangat bau dan menjijikan. Tak ada seorang dokter pun yang bisa menyembuhkan penyakitnya. Sedikit demi sedikit harta bendanya mulai habis dan akhirnya, ia akhirnya pulang untuk menemui ibunya, ternyata ibunya sudah meninggal dunia. Ia terus-menerus menyesali kesalahannya. Tetesan air matanya terus-menerus keluar, warga setempat juga bingung.