Pahlawan Tanpa Tanda Jasa
27 Dec 2009 Leave a Comment
Pada tahun 2000 hiduplah seorang anak yang bernama Joko. Ia sedang menyelesaikan kuliahnya di Universitas Negeri Jakarta. Ia termasuk dalam keluarga yang kurang mampu. Meskipun ia hidup dalam keluarga yang kurang mampu tetapi, ia tetap tegar dalam menghadapi cobaan.Bahkan untuk makan pun sulit.Ia harus bekerja keras siang malam untuk mencari sesuap nasi.Pada pagi hari ia harus kuliah, setelah kuliah dia harus bekerja disalah satu restaurant untuk mencuci piring. Selesai mencuci piring ia harus menjadi tukang ojek didekat rumahnya. Motor yang dipakai untuk mengojek pun bukan miliknya. Dia hanya meminjam motor milik temannya.Hasil dari pekerjaannya itu harus dibagi rata dengan temannya yang memiliki motor tersebut. Temannya bernama Beni. Beni pun begitu baik, ia tidak meminta imbalan dari Joko. Pada tahun 2001 Joko pun lulus kuliah dengan nilai yang cukup tinggi."Akhirnya, saya lulus dengan nilai yang cukup tinggi." kata Joko.
Tetapi setelah dia lulus, ia pun menjadi pengangururan, karena restaurant tempat ia bekerja kini telah bangkrut. Belum lagi temannya yang mau pindah rumah. "Jok, aku ingin pindah rumah sekarang. Maaf ya Jok??"kata Beni. "Ia, tidak apa apa. Mau pindah kemana kamu Ben??" tanya Joko."rencananya si aku mau pindah ke Jawa Barat." jawab Beni.Sekarang ibunya mulai sakit sakitan dan harus dibawa kerumah sakit. "Aduh gimana nih ibu sekarang sakit sakitan sementara aku tidak punya uang untuk membawa ibu kerumah sakit." kata Joko. Karena biaya yang cukup besar membuat Joko tidak dapat membawa ibunya ke rumah sakit.Akhirnya Joko meminjam uang ke salah satu temannya. "Rey, kalau boleh saya pinjam uang dong!!Untuk ibu. Sekarang ibuku sedang sakit-sakitan." kata Joko dengan sopan. "Ok deh kita kan teman, semoga uang ini dapat membantumu." kata Reynaldi sambil memberi uangnya. "Terima kasih ya Rey, aku tak tahu lagi harus bagaimana cara membalas budi baikmu." kata Joko dengan gembira. "Oh tidak apa apa ko Jok aku juga senang bisa membantumu. Sekarang cepat kamu pulang dan bawa ibumu ke rumah sakit." kata Reynaldi.Akhirnya dengan senang Joko pulang kerumah. Betapa kagetnya dia setelah mengetahui ibunya telah pergi meninggalkannya untuk selamanya Joko pun hanya bisa menyesali hidupnya.Ia pun tetap tabah menjalani hidupnya.Dan sekarang ia harus menafkahi ketiga adiknya yang masih kecil yaitu Lara, Ardi, dan Ina."Aku harus mencari pekerjaan." kata Joko dengan semangat.Setelah Joko mencari pekerjaan kesana kemari ia tidak diterima disana dan disini.Akhirnya Joko pun memilih untuk mengajar di jalan raya. Dengan buku-buku seadanya dan murid-murid yang tidak banyak akhirnya Joko menjadi guru.Tetapi dengan pengajaran Joko dijalan raya banyak preman preman yang tidak suka dengan kehadiran pengajaran disana."Heh ngapain kalian belajar??" tanya preman preman itu dengan seonoh onoh. "Apakah anda bisa sopan terhadap anak anak kecil ini??" jawab Joko dengan sopan. "Ohh rupanya engkau tidak tahu siapa aku??" jawab preman itu dengan nada yang kesal.Murid murid pun ketakutan atas adanya preman preman itu. Akhirnya sedikit demi sedikit murid murid itu pun pergi."Ok kita omongin masalah ini dengan kepala dingin." kata Joko. "Saya mau sekarang juga kita omongin." kata preman itu.Akhirnya mereka membicarakan masalah tersebut.
Setelah dibicarakan baik baik akhirnya masalah itu selesai. Selesai dari masalah itu datanglah masalah baru dengan orang tua murid.Ada yang setuju dengan sekolah itu dan ada juga yang tidak setuju. Dari orang tua murid mengatakan bahwa “Kalau anda saja yang sekolah tinggi saja masih jadi guru yang tidak digaji. Apalagi anak anak kami. Kami juga keluarga kurang mampu, tidak bisa menyekolahkan mereka ke sekolah yang lebih tinggi lagi.” kata salah satu orang tua murid yang anaknya ingin tetap sekolah. “Ibu-ibu ini semua salah besar!! Dengan sekolah kita tidak mudah untuk dibohongi oleh orang lain. Saya memilih mengajar di sini karena saya kasihan dengan anak-anak disini.” jawab Joko dengan tegas. “Jadi apa salah kita mengajarkan anak anak kita mulai dari yang kecil?” sambung Joko lagi. “Maaf pak kita semua tidak tahu. maafkan kami pak karena kami sok tahu.”kata salah satu orang tua murid. “Jadi apa boleh saya lanjutkan sekolah ini?” kata Joko. “Boleh.” kata ibu ibu setempat.
Setelah lama Joko mengajar lalu teman lamanya datang. “Assalamualaikum.” sapa Rio sopan. “Waalaikum salam.” jawab Joko. “Rio apa kabar??” tanya Joko. “Baik kawan. bagaimana denganmu?” tanya Rio kembali. “Baik baik juga. Ohh ya sebentar dulu ya saya ingin mengajar murid muridku.” jawab Joko. “Ohh ia maaf ganggu.” jawab Rio. Selesai mengajar, Rio dan Joko akhirnya mereka mengobrol. Dan ternyata Rio mempunyai pekerjaan untuk Joko. Joko pun senang sekali bisa mengajar di salah satu Sd di Jakarta. “Akhirnya aku bisa juga mengajar di salah satu sekolah di Jakarta.” kata Joko. Akhirnya Joko dan ketiga adiknya dapat hidup bahagia dan sukses berkat ketabahannya, dan kesabarannya dalam menghadapi cobaan.