Kisahku!!!
19 Mar 2010 Leave a Comment
Aku segera berlari menuju kelas . Ternyata kelasku sudah ramai oleh teman -teman, aku pun masuk ke dalam kelas. “ Permisi saya boleh duduk disini? kata aku. “Oh silakan “ kata Dina. “Namamu Dina Mardiana? lalu aku memanggilmu siapa? “ kataku yang ingin mengenalnya. “Panggil saja Dina, aku sering dipanggil Dina. Kamu Ani Nurcahyati“ kata Dina. “Kamu bisa panggil aku Ani“ Jelasku. Kami pun berbincang –bincang bersama. Akhirnya bel pun berbunyi.
“Selamat siang adik-adik” kata kakak kelas yang membimbing kami. “Kakak mau mengenal kalian boleh gak?” kata kakak itu. ”Sebelumnya perkenalkan dulu kalian boleh panggil kakak, kak Nita.“ kata kak Nita.
“Oh ternyata namanya Nita , kak Nita” kata Dina. “Ia nama yang bagus ya Din.” kataku.”Kakak mau kalian memperkenalkan diri satu persatu di depan kelas. Mulai dari Rizki.” kata kak Nita. Setelah semua memperkenalkan diri satu persatu kami pun diajak belajar sambil bermain. Tidak terasa bel berbunyi tanda pergantian jam pelajaran. ”Sekian dulu dari kakak besok kita lanjut lagi ya?” kata kak Nita. ”Ia kak“ kata anak-anak serempak .
Oh ya saya lupa kami di tempatkan di kelas 7-4 . Kami pun berganti jam pelajaran . Ternyata yang masuk wali kelas kami sendiri “Selamat siang anak-anak” kata Bp. Munawir. ”Siang pak“ kata anak-anak serempak. Setelah kami berkenalan dengan Bp. Munawir yang akrab disebut Pak Wing. Kami pun memulai pelajaran itu. Murid-murid selalu ribut dengan pelajaran itu. Ntah tak tahu kenapa, saya pun ikut mengobrol dengan teman-teman saya , sampai – sampai pak wing memukul meja dan berteriak “ Diammm!”. Kami pun menjadi takut. Dalam sekejap kelas kami tenang tanpa ada yang berisik kami pun di suruh menyatat apa yg tadi di pelajari. Belum selesai mencatat bel pun berbunyi tanda pergantian jam.
“Selanjutnya kami di ajarkan dengan Bu Kiki. Guru Bk (Bimbingan Konseling) kami pun di beri tugas hanya menulis Nama,tanggal lahir, dan alasan masuk SMP ini. Setelah selesai tugas pun di kumpulkan. “Selesai tidak selesai kumpulkan“ kata Bu Kiki yang sedikit agak tegas. Bel pun berbunyi tanda istirahat, Aku dan Dina pun pergi ke kantin. Kami hanya membeli makanan ringan karena jika kami makan makanan besar sudah pasti mengantrinya lama.
”Din, kita beli makanan ringan saja yuk?” ajak ku .”Hmm, boleh tuh.” kata Dina, kami pun membelinya bersama–sama. Setelah itu kami makan di taman bersama-sama tak terasa bel pun berbunyi kami pun berwudhu untuk sholat. “Ayo din cepet bel udah bunyi tuh. ”Ia ia” kata Dina. Setelah sholat kami pun masuk kelas dengan perasaan takut. ”Assalamualaikum” kata ku dan Dina.”Waalaikum salam.” kata Pak Djoni. ”Dari mana kalian kok baru masuk?”sambungnya lagi .”Maaf Pak kami telat masuk kelas” kataku. ”Ya sudah kalian duduk. Kata Pak Djoni dan kami pun memulai belajar. Setelah selesai, kami pun pulang ke rumah masing-masing.
Besok harinya aku kembali ke sekolah hari itu sama dengan hari kemarin. Hanya sedikit saja yang berbeda setelah beberapa hari melewati MOS. Kami pun resmi menjadi siswa/siswi SMP. Kami pun sudah saling kenal tidak hanya dari kelas 7-4 dari kelas-kelas lain pun ada yg sebagian kami kenal. Aku dan Dina pun menjadi sahabat, kalau ada PR kelompok kami selalu bersama.
Hari-hari pun begitu cepat berlalu, Aku dan teman-teman lainnya akan melaksanakan UTS. Aku mempunyai target kalau aku harus bisa mencapai KKM dan di atas KKM. Aku pun berusaha semampuku untuk dapat memenuhi target tersebut .
Dan hasilnya aku pun dapat mencapai target rata-rata nilai ku 69,7 ya aku bulatkan menjadi 70 kecuali Bahas Inggris. Aku tak bisa mencapainya nilai Bahasa Inggris ku di bawah KKM. semangatku mulai berkobar lagi setelah mengetahui nilai rata-rata Dina lebih tinggi dari ku. ”Pokoknya aku harus bisa!” bisikku di dalam hati. Aku selalu berusaha mendapat nilai yg lebih baik dari Dina, tetapi aku jarang menang melawannya. Aku tidak akan patah semangat. Dina pun selalu membantu ku. “Ayo Ni, masa kamu kalah si?” kata Dina yang tak pernah bosan menyemangatiku. Selalu kata-kata itu yg keluar dari mulut Dina.
Akhirnya semester 1 pun selesai. Aku belum mengambil raportku. Ibuku yang mengambil rapot itu . Aku memilih tidak ikut mengambilnya, karena aku takut nilaiku jelek. Dan ternyata aku masuk 5 besar, betapa senangnya hatiku. Segeralah aku menelepon Dina dan mengucapkan selamat padanya. Karena Dina peringkat ke tiga.
Akhirnya libur pun tiba . Aku dan keluargaku berwisata ke Taman Raya Bogor. Sedangkan Dina dan kelurganya berlibur ke Bandung. Liburan kali ini liburan yang sangat seru. Karena jarang jarang aku dapat berkumpul dengan anggota keluargaku. Rasanya berlama–lama aku bersama mereka.
Liburan pun sudah habis aku harus kembali ke sekolah. Aku ingin menceritakan semua ini kepada Dina. Setelah sampai disekolah aku mencari Dina dan menceritakan semua padanya. Dina pun begitu ia menceritakan semua waktu liburannya kepada aku. Kami pun bercanda–canda. Setelah itu kami pun masuk kelas dan melanjutkan ceritanya. Aku beruntung mempunyai sahabat sebaik Dina. Hari–hariku selalu diwarnai oleh canda dan tawa.
Sampai suatu saat Dina mencariku dan bercerita . “Ni aku lagi jatuh cinta ni sama cowok.“ kata Dina. “Namanya siapa Din ?” kataku menanggapinya. “Namanya Cahyo. Ihh ya ampun ganteng dah tuh orang.” kata Dina. “Oh emang seganteng apa si,sampai-sampai kamu tergila–gila sama dia?” kataku.
“Pokoknya Lee Min Hoo, Kim Bum lewat dah hahaha.“ kata Dina yang mencoba membuat kami tertawa. “Hmm, tapi ingat ya jangan lupain pelajaran. Itu pesanku aja buat sahabatku yang satu ini.” kataku. “Siap bu guru.” kata Dina. ”Ya udah yuk kita ke kelas?” ajakku kepada Dina. Kami pun akhirnya masuk kelas.
Tidak lama bel pun berbunyi tanda masuk sekolah. Kami pun langsung berbaris dengan tertib. Setelah itu kami memulai pelajaran. Dengan serius kami mengikuti pelajaran. Hari–hari yang sama kami lalui bersama . Setelah beberapa hari, minggu, Dina pun bercerita . “Aniiiiiii… aku punya kabar gembira !!!” kata Dina yang tiba muncul di hadapanku. “Ehh Dina ngagetin aja si?? Untung aja aku nggak jantungan.” kataku sedikit kesal. “Ia ia maaf deh, salah lagi deh aku.” Kata Dina yang sedang senang. “Dari raut wajahmu kayanya lagi senang banget nih?” kataku. ”Yee dasar Anni dodol kan kataku aku punya kabar gembira mau tau ga Ni?? Mau tau ?? Mauuu tau aja… Haha.” kata Dina yang sedang tertawa. “Ya udah deh kalau gak boleh tau.” kataku. “Ga usah nangis Ni, aku Cuma bercanda. Jadi aku sama Cahyo yang pernah aku ceritain itu, kami udah menjadi sepasang kekasih resmi kemarin!!” kata Dina “Oh selamat ya??” kataku memberi ucapan.
“Ya Din, Btw mana nih PJ-nya?” kataku. ”PJ apaan tuh?” kata Dina. “pajak jadian?” kataku . Wkwkwk minta aja sana ama nenek moyangmu hahaha.” Kata Dina dengan tertawa. “Dina nyebelin ahh, aku benci Dina.” Kataku sambil bercanda. “Yee aku kan Cuma bercanda, ko kamu ngambek sih??” kata Dina. “Satu orang kena tipu aku. Haha” kataku sambil tertawa. Kami pun bercanda-canda.
Hari-hari kita lewati bersama tetapi ada yang ganjal disini. “Kenapa nilai–nilai Dina menjadi menurun.” Pikirku. Dan aku bertanya kepada Dina, “Din, kok nilai–nilai kamu pada menurun sih? Kenapa kamu ada masalah?” Kataku. ”Ah masa sih? Nilai kamu aja yang ketinggian kali Nii?” kata Dina dengan tenang. Suatu hari aku ingin mengajak Dina belajar bersama, akan tetapi dia menolak. ”Din belajar kelompok yuk? Bareng ama teman-teman yang lain?” ajakku. ”Hmm… ga ahh males aku, lagi gak enak badan aku.” kata Dina. ”Oh ya sudah moga cepet sembuh aja ya?” kata ku. “Thanks ya Ni kamu emang sahabat paling baik yang pernah aku miliki.” Kata Dina dengan senyum. ”Ahh bisa aja kamu Din.” kata ku yang hampir terbang dengan pujiannya. ”Ya sudah mau aku antar pulang gak?” kataku sambil memberikan tawaran jasa. ”Gak usah Ni, aku bisa sendiri kok.“ kata Dina . “Kok akhir-akhir ini Dina sedikit berubah yah?“ piki ku dalam hati. Nilai–nilainya sekarang menurun, diajak belajar kelompok gak mau, kenapa yah?“ pikirku lagi. “Biarkan saja sekarang udah mau MID kedua aku harus lebih rajin belajar. Agar mama dan papa tidak kecewa dan aku tidak nyesel nantinya.“ kata ku. “Semangat Ani, kamu pasti bias.” kata ku menyemangati diri.
Setelah Mid semester aku pun mendapat hasil yang lebih tinggi dari yang lalu. Tapi tetap saja Bahasa Inggris tidak tuntas lagi dan di bawah KKM lagi, tapi aku cukup senang dan hasil rata–ratanya 78,9. Ih wow meningkat sekali hasil belajarku selama ini. Tetapi di samping itu Dina merasa menyesal karena nilai–nilainya kecil. “Ni maafin aku yah, aku gak dengerin kata–kata kamu” kata Dina . “Oh enggak gapapa kok Din, Tapi ada syaratnya kamu harus belajar lebih giat baru aku mau maafin, mau gak?” kataku pada Dina sambil tersenyum. “Ok dah aku belajar lebih giat lagi” kata Dina. “Ya aku percaya kok. Oh ya gimana kabar kamu sama Cahyo?” tanyaku. “Hmm… aku udah putus ama dia.” kata Dina. “Ya ampun kok bisa? Gimana ceritanya?” tanyaku penasaran. “Ani udah deh gak usah di bahas lagi, Aku males bahas masalah ini lagi.” kata Dina sambil mengalihkan pembicaraan. “Gimana hasil MID kamu?” sambung Dina. “Hmm… Alhamdulillah hasilnya lumayan bagus, meningkat lebih tinggi dari semester I.” kataku dengan senang.
“Oh… selamat ya akhirnya kamu bisa mengahlahkan aku, tapi aku akan lebih semangat lagi dari kamu.” kata Dina yang tidak mau kalah.
Hari–hari terus berganti aku dan Dina selalu berlomba–lomba agar mendapatkan hasil yang baik. Walau begitu persahabatan kita baik–baik saja. Akhiranya pengambilan raport, Aku ikut dengan ibuku ke sekolah. Dan ternyata Aku dan Dina peringkat 4. Kita sama sama peringkat 4. Wow menakjubkan sekali. Aku gak nyangka ternyata hasil kita sama setelah mengambil raport aku dan Dina pun mengambil undian yang berisi Pagi dan Siang kami yakin kami masuk pagi. Ternyata benar, kita mendapat kata Pagi betapa senangnya kami dapat bersama sama lagi. Setelah itu aku dan ibuku pulang. Tetapi Dina dan ayah nya belum pulang karena nomor absen aku dengan dia berbeda.
Akhirnya libur lagi, tetapi berbeda dengan liburan kemarin aku memilih untuk menghabiskan waktu liburku untuk membeli dan membaca buku buku. walaupun sedikit bosan tetapi aku senang karena aku dapat membaca dan menambah ilmu aku lebih banyak. Dina pun menghabiskan waktu nya untuk berliburnya untuk menginap kerumah nenek dan kakeknya. Setelah berlibur dan aku harus kembali ke sekolah akupun segera melihat papan pengumuman ternyata aku dan Dina akan belajar di kelas 8-6 dengan wali kelas yang dulu Bapak Munawir (Pak Wing). “yah Din kita wali kelasnya sama saja Din masih pak Wing haha“ kata ku. Bosan aku dengan dia.” kata Dina. ”Nikmati sajalah. Haha.” Kata ku.” “Ya ya ya. Oh iya kita dulu nya berdua aja yuk Ni.” kata Dina. yang mengajakku. ”Hmm kenapa gak bisa jauh dari aku ya Din? Haha. Ia ia kita duduk bareng- bareng.” Kataku.
Akhirnya kami pun masuk kelas dan memilih tempat duduk yang tepat kami duduk di depan guru. Setelah itu kami di suruh mencatat jadwal pelajaran dan kami memilih pengurus kelas 8-6 setelah selesai kami membagikan tugas piket. Aku piket pada haru kamis dan Dina pada hari senin. Ada juga teman–teman yang dari kelas 7-4 , ada Restu, Mega dan Tika. Aku duduk di depan lalu Restu dan Andi duduk dibelakang kami. Tidak terasa kami begitu dekat dengan Restu dan Andi, sampai akhirnya kita selalu bersama-sama . Kami pun punya prinsip jika ada di antara kami yang ulang tahun akan dijahili sampai abis–abisan. Kami pun mempunyai sebutan atau panggilan akrab. Aku = Jenong, Dina = Lebay, Restu = Bogel dan Andi = Dono. Har –hari kami pun penuh canda dan tawa. Selama 1 semester kita bersama dan jika UAS kita pun selalu 1 ruangan.
Pada suatu hari kami berjanji akan masuk 10 besar di kelas 8-6 ternyata itu terjadi. Juara Pertama Restu, kedua Dina, kedelapan aku dan kesepuluh Andi. Restu menang dan Andi harus meneraktir kita semua, Kami semua di teraktir Andi. Semester 2 Dina sudah mempunyai kekasih baru yang bernama Ian. Mereka adalah pasangan yang sangat cocok hubungan mereka semakin lama, sekitar 4 bulan berjalan. Pada akhir–akhir ini ada yang sering memberi kabar angin kepada Dina lewat telepon dengan menggunakan nomor pribadi dan memberitahu kalau Ian sang pacar Dina telah berselingkuh dengan cewek lain. Segeralah Dina menelepon Ian dan meminta putus. Beberapa kali Ian menelepon Dina tetapi tidak ada jawaban. Ian pun menerima keputusan itu dengan berat hati.
“Dina…!” kataku mengagetkannya. “Ani , kenapa Ni?” kata Dina yang sedang murung. “Gamama Cuma nyapa aja, kok kamu murung??” tanya aku. “Yee bukan gamama tapi gapapa gimana sih kamu Ni?” kata Dina. “Aku suka aja bilang gamama dari pada gapapa, kenapa kamu kok murung? Pasti ada masalah ya?” tanya aku yang sok tahu. “Hmmm.. Ia nih Ni aku baru putus dari Ian, Dia selingkuh..” kata Dina. “Kok bisa Din? memangnya sudah terbukti kalau Ian itu selingkuh?” tanya aku dengan heran. “Belum sih tapi ada cewek yang menelepon aku dengan nomor pribadi, dan cewek itu yang kasih tau kalau Ian itu selingkuh.” kata Dina yang menjelaskannya. “Hmm…menurut aku, kamu tuh jangan berpikiran negative dulu. Belum tentukan yang di bilang cewek itu benar. Coba deh kamu selidikin terlebih dahulu.” kataku yang memberi saran ke Dina. “Tapi tiba–tiba aku percaya gitu aja ya ma cewek itu ?” kata Dina. “Wah parah kamu, kalau begitu berarti kamu main hakim sendiri… gak baik tuh Din?” kataku. “Ia Ani ku sayong, maaf deh.” kata Dina.
Setelah Dina mengetahui bahwa Ian tidak selingkuh barulah Dina menyesalinya, dan Dina berusaha untuk meminta maaf kepada Ian. Sebaliknya Ian pun sudah memaafkan kejadian itu, dan Ian pun sudah melupakan kejadian itu.Tiba-tiba Ian bercerita kepada Dina bahwa sahabatnya Ani telah menyatakan cinta kepada Ian. Dina pun marah besar dan menyebut nama Ani sebagai sahabat makan sahabat. Setelah itu Dina pun tak mau berbicara sepatah katapun dengan Ani. Ani pun berkali–kali minta maaf pada Dina, akan tetapi sayangnya tidak mau memaafkanya. Sampai–sampai Ani harus pindah tempat duduk. Sudah lebih dari 1 bulan Dina marah padaku, aku pun tidak tahu kenapa dia semarah ini padaku. Setelah aku bertanya pada teman-temannya aku pun baru tau kalau Dina marah padaku karena dia menyangka aku telah menyatakan cinta pada Ian. Aku pun berusaha mencoba berbicara pada Ian. Teman-teman mencoba agar aku dan Dina baikan dan tetapi berhubungan lagi. Sampai–sampai lagu changcuter senandung pertemanan “Persahabatan Dina Ani, tak akan terpisah oleh cowok.” Semua mencoba Aku dan Dina baikan tapi itu sia–sia akhirnya. Dina begitu membenci ku pada suatu saat aku tidak sengaja bersentuhan denganya. Dan begitu sakit hatiku setelah mendengar. “Ihh… Najis dah aku kena Virus FLU BABI. Aduh bersihin dong, gimana sii?” kata Dina. Aku yang mendengar itu semua hanya diam 1000 bahasa. Sampai salah satu guru yang dekat dengan Dina berkata “Marah lebih dari 3 hari dosa loh Din?“. Aku dan Dina pun hanya dapat diam, teman-teman aku tertawa dan berkata-kata “Tau tuh pak, omelin aja pak.“. Aku bingung dengan masalah ini, aku yang tidak bersalah kok malah disalahin, kan aneh! Sampai-sampai teman-teman di kelas memanggilku dengan sebutan sahabat makan sahabat, penghianat, dan lain-lain.
Mungkin ini jalan takdirku dibenci oleh sahabat sendiri karena kesalah pahaman