Rumah baru? Cerita baru dong :)
19 Dec 2010 Leave a Comment
Siang ini cuaca terasa panas. Matahari pun enggan bersahabat dengan ku. Hari ini aku dan keluargaku akan pindah rumah ke rumah baru kami. Aku dan adik ku Dino bersiap-siap membereskan semua nya. Begitu juga mama dan papa. “Gea, Dino udah pada siap belum? ” teriak mama ku dari bawah. “Iya mah sebentar. ” jawab ku. Lalu aku dan Dino turun ke bawah. “Mama, kenapa sih kita harus pindah? Kan Dino udah enak di sini mah?” tanya adik ku yang polos itu. “Memang kita harus pindah Dino. Karena papa mu kan pekerjaannya juga pindah daerah” jawab mama. Aku dan papa hanya tersenyum. Lalu kami pun menuju rumah yang akan kami tempati nantinya.
Sesampainya di rumah baru aku dan Dino hanya bengong menatap rumah kami yang baru itu. “Ini rumah kita pah, mah?” tanya ku sedikit bingung. “Iya Gea. Ada apa? Kamu tidak suka?” tanya mama. “Hem.. menurut Gea ini terlalu besar mah untuk kita.” jawab ku. “Iya mah kata Dino juga terlalu besar untuk aku, mama, papa dan kak Gea” sambung Dino yang sependapat dengan ku. Mama dan papa hanya tersenyum kecil. Lalu kami masuk ke dalam rumah baru kami dan melihat seisi rumah ini. Lalu mama menunjukan kamar untuk ku dan Dino. Kamar kami bersebelahan.
Kami pun merapihkan kamar kami masing-masing. Rumah ini bertingkat 2 dengan cat berwarna creme. Ketika aku sedang merapihkan kamarku, aku merasa seperti ada yang lewat didepan kamarku. “Noo, Dino..” panggilku. Lalu ku beranikan diriku untuk melangkah keluar. Tidak ada orang. Sepi. Aku hiraukan kejadian itu. Aku terdiam sesaat. Dan HandPhone ku berdering. Huh mengagetkan saja. “dari Andi” bisik ku dalam hati. Lalu ku terima telpon dari pacarku. Aku memang tidak bilang kepada siapa-siapa tentang kepindahan rumah baru ku ini.
“Hallo sayang, kenapa kamu gak bilang mau pindah rumah? Kalo kamu bilang kan aku mau ikut. Aku kan mau tau rumah baru kamu itu dimana?”
“Aku capek. Ngantuk. Pusing.” jawabku singkat dan aku memutuskan telpon nya.
Sebenarnya hubungan ku dengan Andi tidak di dasari dengan cinta. Aku tidak mencintainya, namun Andi mencintaiku dengan tulus. Hubungan kami sudah berjalan cukup lama sekitar 6 bulan. Aku sudah sering meminta agar aku berstatus lajang. Tetapi Andi menolaknya.
Selesai merapihkan kamar aku tertidur pulas. Mungkin karena aku kecapean. Didalam mimpiku aku bertemu dengan keluarga lain. Mereka manusia dengan wajah menakutkan. Keluarga itu terdiri dari ayah, ibu, dua anak perempuan, dan seorang anak laki-laki yang sangat tampan. Aku tak tahu nama keluarga mereka. Tetapi aku tahu siapa nama laki-laki tampan itu. Namanya Joe. Keluarga mereka tinggal di atap rumah ku. Aku tak tahu bagaimana bisa. Joe bilang kalau mereka mahluk baik-baik. (Aku tidak bilang mereka manusia juga setan). Joe mempunyai hewan peliharaan. Hewan itu cukup aneh. Kelinci putih dengan kepala dua yang sangat besar. Dapat dibilang menakutkan.
“Kak Geaaaa, kak Geeaaa bangun kak.” kata Dino sembari menggoyang-goyangkan tubuhku. Aku langsung terbangun. “Iya Dino” kataku sambil mengumpulkan nyawaku yang masih tertinggal di alam mimpi sana. “Kak Gea kata mama Dino suruh banguni kak Gea terus kak Gea di suruh mama mandi abis itu kak Gea langsung ke meja makan, mama mau makan bersama katanya kak.” cerocos Dino adik ku. “Yaudah Dino duluan aja dih. Kak Gea mau melaksanakan tugas dari adik kak Gea yang paling ganteng ini.” kataku tak lupa mencium kening adikku ini. Dino pun berlari keluar dari kamarku.
Aku pun mandi. Setelah mandi sesuai dengan perintah adik ku aku pun turun ke bawah untuk makan bersama. Ternyata mama, papa, dan Dino sudah menunggu. Aku ingin menceritakan mimpiku kepada mereka, tetapi aku urungkan niatku. ‘Itu hanya mimpi. Dan mimpi adalah bunga tidur. Mungkin saja aku lupa berdoa sebelum tidur.’ batinku menenangkan. Selesai makan aku naik ke atas dan masuk ke kamarku. Saat aku ingin menyalahkan TV dikamarku tiba-tiba seperti ada yang lewat. Aih apa itu? Bulu kuduk ku yang kompak ini spontan berdiri. Hey kenapa? Kenapa seperti ini? Kenapa aku merasakan keganjalan di rumah ini? Ah mungkin hanya perasaan ku saja.
Karena sudah malam akhirnya aku tidur, tak lupa membaca doa sebelum tidur. Kembali lagi aku bermimpi bertemu keluarga Joe. Mereka seperti tidak suka dengan ku. Hanya Joe lah yang tersenyum ramah melihatku, dan aku balas senyum manisnya itu. Aku di ajak olehnya ke suatu tempat yang aku sendiri tidak tahu. Ia memberikan ku sebuah kalung untuk ku pakai. Katanya dengan memakai kalung itu aku tidak akan terlihat oleh keluarganya. Karna keluarganya memang tidak menyukai manusia.
Aku diajak ke kamarnya, seperti kamarku hanya saja ini lebih mewah. Ranjang yang terbuat dari emas, sedangkan aku hanya terbuat dari kayu. Lampu tidur yang terbuat dari perak, dan masih banyak lagi. “Joe aku suka tempat ini. Tempat ini benar-benar bagus. Aku baru pertama kali melihat tempat ini. Terimakasih Joe.” kataku. “Oh ya? Kamu senang? Aku juga senang jika kamu senang Gea.” jawabnya. Lalu kami berjalan-jalan lagi sungguh ini seperti rumah baruku. Namun ini lebih mewah.
Mentari menyambut pagi ku. Burung-burung berkicau membangunkan ku dari mimpi indahku semalam. Mama ikut serta membangunkan ku dengan mengetok-ngetok pintu kamarku dan berkata “Geeeeaaa bangun udah pagi!”. Aku yang masih mengantuk bangun. Tiba-tiba suara seorang lelaki yang sepertinya aku kenal memanggilku. papa? Bukan. Dino? bukan juga. Lalu siapa? Aku mencari sumber suara itu. “Geeeaa. Geaaa Gea aku disini. Aku disamping lemarimu.” katanya. Aku langsung menoleh ke samping lemariku. “Joe?” kataku singkat. Aku seolah tidak percaya jika di sini ada dia. “iya. Ini aku Joe.” jawabnya singkat. “Kenapa kamu ada disini? Bagaimana bisa kamu masuk ke kamarku?” tanyaku heran. “Aku bisa masuk ke sini kapan saja tanpa izin kamu. Sudah sana kamu mandi dulu.” katanya. Aku langsung menuju kamar mandi untuk mandi.
Selesai mandi aku sudah tidak melihat Joe lagi. Ku panggil namanya “Joee..” tak ada jawaban. Sekali Lagi “Joe..” juga tak ada jawaban. Mungkin ia tak dengar, dan sekali lagi lebih keras “JOOOOE” tak ada jawaban juga. Mama, papa dan Dino datang ke kamarku dan bertanya “ada apa Gea? Siapa Joe itu?”. Aku bertanya sambil menangis “mama, papa, Dino apa kalian melihat temanku Joe? Dia tinggi, putih, dan tampan.” tanyaku. “Kamu kenapa sayang?Tak ada siapa-siapa tadi.” kata mama cemas. “ngak mah. Ada temen Gea namanya Joe.” jawabku.
Lalu mama memelukku. “sabar sayang, tenangin diri kamu dulu.” kata mama. Dino dan papa hanya tersenyum.Lalu mama menyuruh Dino mengambilkan segelas air minum untukku. Dan aku mulai tenang. Setelah mama, papa dan Dino keluar, Joe muncul lagi. “Gea. Gea. Gea” panggil nya. Aku mulai pusing dibuatnya. “Kenapa mama, papa dan juga Doni tidak dapat melihat mu Joe? Kenapa hanya aku saja yg dapat melihatmu?” tanyaku histeris. Joe tidak menjawab, dan pergi begitu saja. Aku pun tak sadarkan diri.
Lalu mama masuk ke kamar dan memberikan sarapan untuk ku. Tuhan, terima kasih Engkau telah memberikan ibu terbaik untuk ku. Doa ku dalam hati. Ya dirumah ini memang tidak ada pembantu. Kata mama agar kita semua mandiri bisa hidup tanpa pembantu. terkadang aku kasihan terhadap ibuku ini. Tetapi beliau sangat hebat. beliau tak pernah mengeluh kecapean.
Hari ini sangat membosankan bagiku. Aku hanya dapat terbaring di tempat tidur ini. Aku telah merepotkan ibuku juga. Itu semua karna teman imajimasiku yang tak nyata, Joe. “Kenapa kau seperti ini Joe? Kenapa aku harus mempunyai teman imajimasi?” tanyaku menyesalinya. aku hanya bisa diam, diam, dan diam. Aku ingin bicara pada ibuku dan juga keluargaku. Namun niat itu aku urungkan besok saja pikirku.
Tak terasa waktu begitu cepat. Bulan sudah menyinari malam ini dengan indah. mama menyuruh ku untuk istirahat. Aku pun menurutinya. Mimpi, mimpi dan mimpi, mimpi itu datang lagi. Joe datang lg ke mimpi ku. Ia mengajak ku jalan jalan di sekitar rumahnya yang luas dan mewah itu. Tiba-tiba hewan peliharaan Joe, kelinci berkepala 2 raksaksa datang seperti ingin mencengkramku diikuti oleh keluarganya. “ini siapa Joe? kenapa kau bawa manusia ini?” tanya ibunya. Joe pun diam. Aku ketakutan. “ini teman Joe bu, Gea namanya. Aku mencintainya.” jawabnya gugup. “Apa? Apa kau sudah gila? Kenapa kau mencintai manusia?” tanyanya kaget. “Gea kenapa kau tidak memakai kalung itu?” tanya Joe. “Oh iya aku lupa.” jawabku. Karena kecerobohan ku kami pun menjadi seperti ini. Maafkan aku Joe.
“Cepat kamu kembali ke tempat tidur itu Gea dan tidurlah.” perintah Joe kepadaku. Tanpa mempedulikan semuanya aku langsung menuruti perkataan Joe. Dan hap aku tertidur pulas. Setelah aku terbangun tiba-tiba api sudah setengah melahap rumahku. Aku melihat ke jendela kamarku. Mama, Papa, dan Dino sudah diluar memanggil nama ku histeris. Ketika aku keluar aku menemukan surat dari Joe bahwa ia telah meminta maaf karna telah membakar rumah ku. Karna dia sayang kepada ku. dia tak mau mengingat semua kenangan kita. Dan aku menyesal tidak memberitahukan ini kepada keluargaku.