Cinta Terlarang II

Tentu masih ingat dong cerita Cinta Terlarang I? Penasaran gak sama kelanjutannya? Kalo penasaran baca aja langsung yuks? Ayukss. Capcus cin. Lanjut deh . Hehe.

Apakah Ade mau tinggal bersama keluarga yang lama? atau tidak?

Langsung aja yak?

“Ade tinggal bareng ayah aja De? Kamu kan sendirian?” kata ayah. “Oh gak usah yah. Nanti Ade ngerepotin. Ade gak mau ngerepotin ayah sama bu Astrid.” kata Ade. “Oh gak ngerepotin kok De, malahan Ady sama Gita ada temennya nanti.” jawab ayah. “Ade, jangan panggil bu Astri panggil ibu aja.” ucap ibu. “Oh iya bu.” jawab Ade singkat. “Jadi gimana? Ade mau tinggal bareng kita lagi ga?” tanyaku to the point. “Ngak deh Dy Tapi makasih ya tawarannya.” kata Ade menolak tawaran sambil tersenyum. “Oh yaudah deh kalo Ade gak mau.” kataku.

Aku pulang bersama keluargaku, dan Ade pulang sendiri. Oh iya, tak lupa aku menyimpan nomor hape Ade. ya buat kontek lah. hehe. Sesampainya di rumah aku merebahkan tubuhku dikasurku yang empuk ini. Hari sudah malam. Aku sangat lelah. Waktunya tarik selimut, cuci kaki biar gak di gigit nyamuk, dan tidur. Didalam mimpiku aku bertemu Ade, kembaranku. Disini aku sedikit lupa dengan mimpiku sendiri. hehe maklum lah.

“Ady, bangun udah pagi.” kata ibu membangunkan ku untuk sekolah sambil mengetok-ngetok pintu kamarku. “Iya bu, Ady udah bangun kok.” jawabku. Denagn malas aku keluar dari kamar dan menuju kamar mandi untuk segera mandi dan berangkat sekolah. Semoga air yang dingin ini dapat menyegarkan ku pagi ini. selesai mandi aku menyampiri ayah, ibu, dan Gita untuk sarapan bersama. Mereka sudah menungguku. Selesai makan aku berengkat ke sekolah.

Oh ya aku punya seorang sahabat loh namanya Ridwan. Dia ganteng sih, juga pinter, tapi kadang-kadang suka gila. (bercanda kek. hehe) udah gua jadiin orang ganteng kan.? haha. Dia sahabat ku di SMA ini. Orang nya iseng banget deh ih, tapi lucu juga. Aku sudah menganggapnya saudaraku sendiri. Kami sering berbagi cerita bersama.

Selesai sekolah aku langsung pulang ke rumah. Tiba-tiba aku teringat oleh Ade. ‘Oh ya aku kan punya nomornya dia, kenapa gak kontek aja?’ pikirku. Lalu aku mengirimkan 1 buah pesan singkat untuknya. Sesuai dengan namanya pesan singkat, jadi pesanku singkat saja. “Maaf, ini Ade Afriyanti bukan?” begitulah pesanku. Dan Semenit kemudian handphone ku berbunyi tanda ada SMS. Dari Ade dan kami akhirnya ngobrol lewat pesan singkat atau sering juga di sebut SMSan gitu kali yee? hahai.

Setelah beberapa lama sepertinya rasa sayangku terhadapnya sebagai saudara telah berubah menjadi sayang terhadap kekasih. Tetapi aku dan dia tak boleh bercinta karna kami saudara. Aku sedih. ‘Andai kau tau De, kalau aku mencintaimu. Dan mungkin kau ada lah cintaku yang pertama. Karena aku baru sekali ini mencintai seorang wanita. Kenapa harus kau De? Kenapa aku harus mencintai kau? Kenapa aku tidak mencintai yang lain?’ batinku sedih dan menyesal.

Suatu saat aku memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaanku kepadanya. Tidak melalui telpon seluler. Aku janjian bersamanya di salah satu mall. Dan aku mengungkapkannya pada saat kami makan bersama. “De..” aku memulainya. “Iya apa Dy?” jawabnya. “Sebenarnya aku suka sama kamu De, rasa sayangku terhadapmu sebagai saudara berubah. Aku mencintaimu De.” kataku. Hatiku menjadi lega akhirnya. Ade menghentikan makannya. Dia menatapku aku kaget dibuatnya. Lalu Ade berkata “Saebenarnya aku juga mencintaimu Dy namun aku takut karena kita hanya saudara.” jawabnya.Ku genggam erat tangannya, dan aku mengajaknya untuk tinggal bersama kembali dan Ade pun akhirnya menyetujuinya.

Selasai makan, aku ikut ke tempat dimana Ade tinggal. Ade bersiap-siap merapihkan pakaiannya dan aku pun membantunya. Setelah selesai aku dan Ade langsung pergi ke rumah. Dengan menggunakan motorku ini kami melaju ke rumah bernomor 123 ini. Setelah sampai kami disambut oleh Gita, ayah dan ibu. “loh Ade?” kata ayah dan ibu heran. “Iya yah Ade boleh kan tinggal sama-sama kita?” tanyaku. “Boleh kok.” Aku menunjukan kamar barunya. “Rumah ini sudah banyak berubah ya Dy? Semakin luas saja.” katanya. Aku hanya tersenyum. “Kamarmu di sini. Dan kamarku di sana.” sambil menunjuk ke arah kamarku yang bercat biru itu. “Aku mau liat kamatmu.” kata Ade. Lalu masuk lah kami kekamar ku. Capek bercanda, aku dan Ade tertidur dikamarku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.