Cinta Terlarang IV
16 Jan 2011 Leave a Comment
Sebenernya sih bingung ya mau ngasih judul apa? Abis ngawur sih ceritanya, bener-benr gak pake kerangka paragraf. Hem.. tapi apalah artinya sebuah judul
maaf-maaf gak lagi-lagi deh. (loh kok?)
Lanjutin aja yuk mari..
Selesai ngobrol-ngobrol kami pun pulang. Aku teringat candaan ade dan Ridwan, mereka akur banget. Mereka cocok deh. Aku urungkan rasa cintaku kepada Ade. ‘Benar kata Ridwan, aku sudah gila, masa suka dengan kembaranku sendiri. Mungkin ridwan lebih pantas untuk Ade, lagi pula aku dan Ade tak akan bersatu karna kami hanya saudara’ bisik batinku.
Hah mungkin akhir cerita yang ke tiga begitu, sekarang ke yang ke empat deh. Gimana ya mula nya? gak tau deh asla ketik yuk? Yuk yak yuk.
Aku memilih untuk mengalah. Hari-hari ku lewati seperti biasa nya. Alur cepetin deh.
Sekarang usiaku sudah 24 tahun, aku bekerja di perusahaan ayah, sedangkan Ade sudah menjadi guru disalah satu Sekolah Menengah di daerah Duren Sawit mengajar matematika. Hubungan aku dan Ade baik-baik saja. Tetapi Ade bilang aku rada pendieman belakangan ini. Hem.. mungkin ya? Aku pun mengelak dengan ngomong ngak kok De mungkin itu perasaan kamu aja. Dan Ade pun percaya. Hore..
Suatu hari aku mengajak Ridwan untuk bertemu empat mata di suatu caffe. Dan Ridwan menyetujuinya. Hem.. aku pun bergegas ke salah satu caffe yang kita sepakati. Sesampainya disana Ridwan sudah sampai lebih dahulu. “Udah lama Ridwan?” tanyaku. “Ngak kok, baru. Ada apa Dy? Tumben kayaknya serius nih.?” tanyanya. Aku pun langsung to the point saja.
“Aku boleh minta tolong?”
“Boleh, apa?”
“Tolong jaga Ade, karena aku sangat mencintainya.”
“Loh kenapa aku? Emang kamu mau kemana?”
“Tolong Ridwan.”
“Oke Dy.”
Kami pun melanjutkan makan, hauaha. Selesai itu aku serasa terburu-buru ingin pulang. Ada papa ini? Selagi di perjalanan aku merasa sangat leleah, tapi ku hiraukan lelah ku ini. Mataku sangat mengantuk. Tiba-tiba… WUAAHH… Ada truck besar di depan ku. Dengan refleks aku belokan stang motor dan aku terpelental. Dan aku tak sadarkan diri.
Tiba tiba aku melihat tubuhku dikerumuhan orang-orang. ‘Kenapa mereka tidak dapat melihat aku? Hey aku ada disini.’ aku berbicara. Akhirnya aku sadar kalau aku sudah tidak seperti manusia lagi. Jasadku pun dibawa ke rumah sakit. Aku melihat Ade, Ibu, ayah, dan Gita menangis terisak-isak. Aku melihat air mata mereka mengalir di pipi. Ku sentuh tangan ayah, namun ayah tak merespon. Ibu juga tidak, dan Ade mungkin ia bisa merasakan? ternyata tidak. Ridwan pun datang ke rumah sakit dan melihat jasadku yang penuh darah itu. Aku melihatnya menangis. Dan Ridwan menenangkan mereka. “Sabar tante, om, Ade, Gita, mungkin Tuhan sudah rindu dengan Ady. Yang tabah ya tante, om, Ade, Gita.” katanya berusaha menenangkan.”Wan tadi kamu bertemu dengan Ady kan?” tanya Ade. “ya, ada apa?” tanya Ridwan. “Apa Ady titip pesan terakhir?” tanya Ade. “Ada.” jawab Ridwan singkat. Lalu Ayah, ibu, Ade juga Gita menengok menatap Ridwan dan kompak berkata “apa?”. Ridwan menjawab “Ady bilang… Ady bilang aku suruh menjaga Ade, aku gak tau maksudnya apa.” kata Ridwan sambil menangis terisak-isak.”Apa maksudnya?” tanya Ade. “mungkin Ady tau kalau ia akan pergi jauh dan ia ingin kamu bahagia dengan Ridwan.” kata ayah. “Maksudnya yah? Ade gak ngerti.” kata Ade.Ayah tak menjawab. Rencananya jasad ku akan di makamkan besok pagi, karena aku mendengar mereka membicarakannya.
Besoknya harinya. Jasadku sudah bersih, sudah dimandikan juga, ku lihat teman-teman ku yang berduka cita atas kepergianku.
PAKE SUDUT PANDANG RIDWANNYA AJA, SOALNY ADY UDAH IS DEAD!
Setahun kemudian aku melamar Ade, karena pesan Ady yang menyuruhku untuk menjaganya, dan Ade pun menerimanya. Setelah lamaran, mempersiapkan perkawinan sudah dan aku dan Ade pun menikah.
Rumah tangga kami pun jarang ada pertengkaran. Sekarang kami memiliki anak laki-laki yang bernama Ady Nugroho untuk mengenang Ady yang jauh disana. Aku yakin Ady bahagia disana. Walaupun Ady sudah tiada disini aku tau ia tetap memperhatikan ku dan ade juga.
Selesai.